Darilaut – Saat ujian skripsi mahasiswa ada yang cemas, gugup dan tidak fokus. Ini antara lain saat ada pertanyaan mendadak oleh penguji.
Padahal, mahasiswa ini telah belajar dengan giat dan menguasai apa yang telah diteliti. Fenomena ini bukanlah hal langka di dunia akademik.
Banyak mahasiswa memahami apa yang mereka teliti, tetapi mendadak “blank” ketika harus menjelaskannya di hadapan dosen penguji.
Situasi ruang ujian yang terasa tegang bahkan sering dipersepsikan seperti ruang pengadilan, bukan ruang dialog ilmiah.
Dari sudut pandang ilmu bahasa dan psikologi kognitif, kondisi ini tidak semata-mata disebabkan oleh kurangnya penguasaan materi.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa faktor psikolinguistik—yakni cara otak memproses bahasa di bawah tekanan—memegang peranan penting dalam fenomena “blank” saat ujian skripsi.
Dosen Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Zulkifli Tanipu, M.A., Ph.D., mengatakan, salah satu penyebab utama mahasiswa kehilangan kelancaran berbicara saat ujian karena beban kerja memori yang terlalu berat.
Dalam sidang skripsi, menurut Zulkifli, mahasiswa dituntut menjelaskan teori, metode, dan temuan penelitian, sekaligus merespons pertanyaan secara spontan. Semua itu harus dilakukan dalam waktu singkat sambil menjaga kestabilan emosi.




