Kearifan Lokal Smong Masuk Kurikulum Sekolah di Simeulue

Desa pesisir yang hancur akibat tsunami. FOTO: OCHA/ Anthony Burke/UN

Darilaut – Lebih dari 167.000 orang meninggal di Indonesia selama kejadian tsunami dahsyat pada tanggal 26 Desember 2024, dan setidaknya 60.000 orang lainnya di negara-negara lain di Samudera Hindia.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) – atas permintaan pemerintah Indonesia – memberikan dukungan bantuan besar kepada para korban yang selamat.

Sepuluh badan PBB terlibat dalam upaya ini, mulai dari Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) yang membantu para pengungsi, hingga Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) yang menyediakan pasokan darurat untuk anak-anak, serta Program Pembangunan PBB yang membantu upaya rekonstruksi.

Di Pulau Simeulue, melansir Indonesia.un.org meskipun merupakan pulau yang paling dekat dengan pusat gempa bumi yang menyebabkan tsunami terbesar di abad ini, jumlah korban tewas di Simeulue relatif rendah.

Enam orang meninggal di pulau berpenduduk 100.000 jiwa ini – angka yang lebih rendah dibandingkan dengan daerah lain yang terkena dampak – setelah gempa bumi terbesar ketiga di dunia sejak seismografi modern digunakan pada tahun 1900.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) memfasilitasi fase tanggap darurat pada tahun 2004 dan, bersama dengan para mitranya, mengadvokasi pentingnya membangun ketangguhan masyarakat melalui pendidikan kebencanaan sejak tahun 2006 berdasarkan praktik-praktik terbaik internasional.

OCHA – bersama dengan badan-badan PBB lainnya, Palang Merah Internasional, universitas, sektor swasta dan LSM – tetap terlibat lama setelah tsunami untuk mendukung Indonesia dan Provinsi Aceh dalam meningkatkan kesiapsiagaan terhadap risiko bencana.

Pada 2024, setelah 20 tahun gempa dan tsunami Aceh, Smong kini menjadi bagian dari kurikulum setiap sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Simeulue dan juga di beberapa kabupaten lainnya, kata Ahmadi, seorang jurnalis setempat.

Asosiasi pendongeng di Provinsi Aceh bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Simeulue melakukan komunikasi dengan kabupaten-kabupaten lain agar melakukan hal yang sama.

“Saat terjadi gempa dan tsunami, Anda akan panik, Anda tidak bisa diharapkan untuk berpikir,” kata Ahmadi.

“Inilah sebabnya mengapa latihan darurat harus ditanamkan dan menjadi kebiasaan. Ini harus dimulai sejak dini.”

Melansir Dishub.acehprov.go.id kisah Smong disampaikan kepada generasi muda termasuk anak-anak dalam berbagai kesempatan, seperti saat memanen cengkeh. Dulu Simeulue terkenal dengan cengkehnya, anak-anak sering ikut membantu orang tua mereka saat memanen cengkeh. Tidak heran jika setiap memanen cengkeh, kisah-kisah Smong jadi selingan di tengah kesibukan.

Selain itu, nafi-nafi juga disampaikan di surau-surau mengaji setelah shalat magrib. Nasihat-nasihat tentang kehidupan dan kisah Smong disampaikan setelah mengaji. Smong juga menjadi pengantar tidur anak-anak di malam hari.

Anak-anak di Indonesia belajar mengenai kesiapsiagaan bencana melalui lagu-lagu tradisional. FOTO: UNIC Jakarta/ Borbala Csete/UN

Para orang tua bercerita tentang Smong sembari menunggu buah hati mereka terlelap dalam tidur. Semua orang tua melakukan hal yang sama, hingga akhirnya Smong menjadi kearifan lokal masyarakat Simeulue yang diwariskan melalui berbagai cara. Para tetua meyakini suatu saat Smong akan datang lagi, walaupun mereka sangat berharap agar kejadian itu tidak pernah terulang lagi.

Bencana tsunami dahsyat yang menimpa Aceh pada tahun 2004 lalu, boleh dikatakan sebagai challenge tersendiri bagi masyarakat Simeulue. Tantangan terhadap kearifan lokal dan adat tutur yang telah diwariskan ternyata berhasil dilalui. Gempa hebat dan luapan air laut menyapu ribuan rumah penduduk, namun masyarakat selamat.

Masyarakat dunia khususnya Indonesia mulai mempelajari Smong sebagai salah satu cara untuk mitigasi bencana tsunami.

Alfi Rahman, Peneliti di Pusat Riset Mitigasi Bencana dan Tsunami (TDMRC), Universitas Syiah Kuala dan Stephen A. Sutton, mahasiswa doktoral di Charles Darwin University menguraikan kisah tersebut di Conversation Media Group (theconversation.com).

Kearifan lokal smong, yang terus dijaga selama 97 tahun, berhasil menyelamatkan nyawa mereka.

Istilah smong menarik perhatian para peneliti internasional yang ingin mendalami fenomena tersebut. Smong merupakan pengetahuan lokal masyarakat Simeulue –sebelum tahun 2004– tidak diketahui oleh pihak luar.

Smong perlu dimasukkan ke dalam kosakata bahasa Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mencantumkan istilah bahasa Jepang “tsunami” untuk merujuk pada fenomena yang oleh masyarakat Simeulue disebut sebagai “smong”.

Padahal, di Jepang sendiri terdapat beragam istilah untuk menggambarkan fenomena alam yang kita kenal sebagai tsunami, seperti onami (gelombang besar), shakainamisu (gelombang yang naik hingga ke daratan), dan sebagainya.

Kata “tsunami” dalam bahasa Jepang berasal dari dua kata: “tsu” yang berarti pelabuhan, dan “nami” yang berarti gelombang; dengan kata lain, “gelombang pelabuhan”.

Jika ditinjau dari akar katanya, pemahaman mengenai bencana alam ini menjadi kurang lengkap. Apakah gelombang ini hanya berdampak pada pelabuhan? Apakah saya aman jika berada di pantai? Hal ini menjadi tidak jelas.

Meskipun demikian, istilah “tsunami” kini digunakan secara internasional—menggantikan istilah “gelombang pasang” (tidal wave) dalam berbagai bahasa sejak tahun 1980-an. Tentu saja, istilah “gelombang pasang” merupakan deskripsi yang jauh lebih keliru untuk fenomena gelombang raksasa tersebut, karena fenomena ini sama sekali tidak berkaitan dengan pasang surut air laut.

Oleh karena itu, terdapat beberapa alasan kuat untuk menjadikan “smong” sebagai bagian dari kosakata bahasa Indonesia.

Tahun ini, di Hari Kesadaran Tsunami Sedunia  (World Tsunami Awareness Day) yang diperingati setiap tanggal 5 November, Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menyampaikan pesan, peristiwa tsunami salah satu bencana alam yang paling mematikan.

Namun, dengan kesiapsiagaan terhadap bencana dan kerja sama, tsunami bisa mencegah dampak terburuknya.

Guterres mengajak pemerintah di seluruh dunia untuk memimpin langkah ini dengan membangun infrastruktur pesisir yang tangguh, perencanaan tata ruang yang berbasis risiko bencana, dan sistem peringatan dini yang menyeluruh.

”Pemerintah juga harus saling bekerja sama antarnegara dalam bidang sains, data, dan sistem prediksi bencana,” ujar Guterres.

Menurut Guterres, setiap individu, keluarga, dan masyarakat di daerah rawan bencana tsunami juga memiliki peran yang sangat penting.

Exit mobile version