Darilaut – Kehancuran menyelimuti setelah bencana banjir dahsyat dan tanah longsor Himalaya di Nepal dan Tibet, Cina. Sedikitnya, 17 ribu anak terdampak bencana tersebut di Nepal.
Hingga Kamis (28/8) ratusan orang masih dinyatakan hilang di Nepal dan Tibet. Banjir bandang dahsyat telah menyapu bersih dan memutus akses ke berbagai wilayah permukiman; jalan, jembatan, fasilitas pembangkit listrik tenaga air, sistem air, dan jaringan telekomunikasi mengalami kerusakan parah.
Hal ini menyebabkan wilayah terdampak sulit dijangkau dan menghambat penyaluran bantuan penyelamat jiwa, demikian disampaikan oleh Dana Anak-anak PBB (UNICEF) pada hari Kamis.
Setidaknya 17.000 anak terdampak oleh banjir bandang dahsyat yang menerjang distrik Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading di Nepal.
“Anak-anak di seluruh wilayah Rasuwa dan Dhading menyaksikan kehidupan mereka seolah hanyut begitu saja di depan mata dalam waktu yang sangat singkat, dengan rusaknya rumah, ruang kelas, dan fasilitas medis,” kata Alice Akunga, Perwakilan UNICEF untuk Nepal, seperti dikutip dari UN News.
“Terlalu banyak yang kehilangan nyawa dan orang-orang terkasih. Dengan jumlah korban jiwa yang terus bertambah, kita tahu tragedi ini masih jauh dari kata usai. Anak-anak yang selamat dari banjir kini menghadapi risiko penyakit, malnutrisi, kekerasan, dan eksploitasi yang lebih tinggi.”
Tim bantuan terus berupaya menjangkau masyarakat yang terisolasi akibat bencana tersebut.
Dana awal sebesar $2 juta telah dikucurkan dari Dana Darurat Global PBB (CERF) “untuk menyelamatkan nyawa melalui perawatan medis darurat, penyediaan tempat penampungan, dan air bersih,” ujar kepala badan bantuan PBB, Tom Fletcher.
Di Nepal, kebutuhan kemanusiaan mendesak sangatlah besar di distrik Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading; masyarakat menghadapi tantangan berat saat keluarga-keluarga berjuang menghadapi kehilangan, pengungsian, dan gangguan pada layanan-layanan penting.
Sementara itu, UNICEF telah berada di lokasi bencana dan meningkatkan dukungannya, “namun kami sangat membutuhkan lebih banyak sumber daya untuk menjangkau setiap anak yang membutuhkan,” ujar Akunga.
Badan PBB Dikerahkan
Kantor PBB di Nepal mengataan badan-badan PBB telah dikerahkan ke wilayah-wilayah terdampak dengan membawa makanan, pasokan medis, dan bantuan kemanusiaan untuk mendukung upaya penanganan yang dipimpin pemerintah, serta siap untuk melakukan lebih banyak lagi.
Di Tiongkok, sekitar 560 orang masih dinyatakan hilang menurut pihak berwenang, sementara kantor perwakilan PBB di negara tersebut pada hari Rabu melaporkan adanya kerusakan serta banyaknya korban dan kehancuran di wilayah otonom Tibet.
Sementara itu, guna mendukung pihak berwenang dan upaya penanganan secara luas, WHO telah mengirimkan paket perlengkapan kesehatan darurat lintas lembaga yang berisi obat-obatan dan pasokan yang memadai untuk menyediakan layanan kesehatan dasar bagi hingga 10.000 orang.
Badan kesehatan PBB tersebut juga telah menyediakan enam tenda serbaguna untuk membantu menjaga kelangsungan layanan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak.
Pasokan ini ditujukan untuk mendukung tenaga kesehatan di garis depan yang terus memberikan perawatan kritis serta menangani kebutuhan kesehatan mendesak penduduk yang terdampak.
WHO tetap berkomitmen untuk bekerja sama erat dengan otoritas kesehatan dan para mitra guna menilai situasi yang terus berkembang, mendukung layanan kesehatan darurat, serta membantu memastikan masyarakat tetap mendapatkan akses terhadap perawatan yang mereka butuhkan di masa sulit ini.
Selain itu, pada hari Kamis, Program Pangan Dunia PBB (WFP) dan Dana Anak-anak PBB (UNICEF) berencana mulai mengerahkan staf serta truk-truk yang membawa pasokan bantuan.
Upaya juga terus dilakukan untuk menilai skala bencana secara cepat, khususnya melalui citra satelit dan analisis wilayah terdampak banjir yang disediakan oleh platform PBB untuk Informasi Berbasis Antariksa bagi Manajemen Bencana dan Tanggap Darurat (UN-SPIDER).
Dikelola oleh Kantor Urusan Luar Angkasa PBB (UNOOSA), inisiatif ini menghubungkan para ahli manajemen bencana dengan badan-badan antariksa untuk membantu kegiatan pengurangan risiko bencana, peringatan dini, dan tanggap darurat.
Saat kabar mengenai bencana tersebut mencuat pada Rabu pagi, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyatakan solidaritasnya terhadap para korban dan keluarga yang terdampak banjir.
Runtuhnya gletser di ketinggian lembah curam Himalaya disebut-sebut sebagai kemungkinan penyebab banjir bandang dan tanah longsor mendadak yang telah menghancurkan permukiman serta menghanyutkan jembatan dan jalan raya.
1.400 Hilang
Sedikitnya 362 orang tewas dan 1.400 hilang di Nepal serta Tibet akibat banjir bandang dahsyat dan tanah longsor di wilayah Himalaya, pada Rabu (66/8).
Tim penyelamat menerjang lumpur pada hari Kamis (27/8) untuk mencari korban hilang, sementara pihak berwenang di Nepal melaporkan setidaknya 359 orang tewas di negara tersebut. Sementara di Tibet, Cina, dilaporkan tiga orang tewas.
Ratusan jenazah telah ditemukan, setelah runtuhan besar lumpur dan batu yang jatuh ke sungai Himalaya memicu banjir dahsyat yang melanda kota-kota dan lembah setempat.
Melansir Al Jazeera, Kepolisian dan pejabat pariwisata Nepal menyatakan bahwa lebih dari 500 warga asing termasuk di antara 910 orang yang hilang di Nepal.
Di antara mereka yang hilang terdapat wisatawan dari lebih dari dua lusin negara: 177 orang dari India, 63 dari Amerika Serikat, 34 dari Australia, 33 dari Inggris, dan 25 dari Kanada.
