Darilaut – Kelompok Talin yang mengembangkan potensi kelapa dan usaha kopra di Kampung Aduwei, Distrik Misool Utara, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya, membuka akses pasar ke luar daerah. Akses pasar ini seperti ke Bitung, Sulawesi Utara.
Penguatan usaha ini berjalan seiring dengan upaya peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sumber daya pesisir dan laut yang berkelanjutan.
Sejak dikelola secara lebih terorganisasi pada 2022, kelompok Talin yang mengelola kelapa (kopra) yang beranggotakan sembilan orang telah melakukan sedikitnya tujuh kali penjualan dan memperluas pemasaran hingga Bitung.
Pada 1 Oktober 2026 pengiriman kopra ke Bitung dengan volume lebih dari 10 ton. Perluasan pasar ini membuka peluang pendapatan yang lebih baik bagi masyarakat sekaligus memperkuat pemanfaatan hasil kebun kelapa sebagai sumber penghidupan.
Ketua Kelompok Talin, Jonathan Elwod, mengatakan dulu kelapa lebih banyak diambil untuk kebutuhan sehari-hari, seperti makanan dan membuat minyak. Sekarang masyarakat mulai melihat bahwa kelapa bisa dikelola menjadi sumber penghasilan berkelanjutan.
Sebagian besar anggota Kelompok Talin juga terlibat dalam kelompok sasi. Di samping itu, mereka sebelumnya telah mengikuti pelatihan Marine Protected Area (MPA) 101, yang membahas dasar-dasar kawasan konservasi perairan dan pengelolaannya.
Hal tersebut memperlihatkan bagaimana orang-orang yang sama dapat mengambil peran berbeda sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Melalui kelompok sasi, mereka terlibat dalam upaya pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan berbasis kearifan lokal, sementara melalui Kelompok Talin, mereka mengembangkan usaha kopra untuk mendukung penghidupan keluarga.
Kedua kegiatan ini memiliki ruang lingkup berbeda, tetapi sama-sama bertumpu pada kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mengelola potensi yang dimiliki.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat Daya, Absalom Solossa, mengatakan upaya ini sejalan dengan semangat ekonomi biru, yaitu mendorong pemanfaatan potensi sumber daya secara berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Didampingi Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Kelompok Talin memperkuat pengelolaan usaha melalui pembagian peran antara ketua, sekretaris, bendahara, dan anggota. Tugas kelompok mencakup produksi, pencatatan, pengelolaan keuangan, penimbangan, hingga pemuatan hasil.
Pendampingan juga mencakup peningkatan kualitas kopra. Anggota kelompok didorong memastikan kelapa dikeringkan melalui pengasapan atau penjemuran hingga benar-benar kering agar lebih tahan disimpan dan memiliki kualitas jual yang lebih baik.
Pendampingan Kelompok Talin memanfaatkan potensi yang telah dimiliki masyarakat Kampung Aduwei. Kelapa sudah lama menjadi bagian dari kehidupan dan sumber penghidupan masyarakat. Pendampingan diarahkan untuk memperkuat pengelolaan usaha melalui kelembagaan kelompok, peningkatan kualitas produksi, dan akses pasar. Upaya ini juga melengkapi penguatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam, termasuk melalui kelompok-kelompok yang bergerak di bidang konservasi dan pengelolaan berbasis kearifan lokal.
Sejalan dengan upaya tersebut, YKAN mendorong masyarakat meningkatkan kualitas produksi dengan mengoptimalkan kebun kelapa yang sudah ada, tanpa membuka lahan baru atau mengonversi vegetasi alami pulau. Dengan pendekatan ini, peningkatan manfaat ekonomi diharapkan dapat berjalan beriringan dengan perlindungan ekosistem alami.
“Kelapa telah menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat Kampung Aduwei. Karena itu, kami mendorong agar potensi tersebut dikelola lebih baik melalui penguatan kelembagaan, peningkatan kualitas produksi, dan perluasan akses pasar,” kata Manajer Senior Ekonomi Biru YKAN, Kiki Anggraini.
Dengan demikian, kata Kiki, usaha ini dapat memberikan manfaat ekonomi bagi anggota sekaligus menjaga kebun kelapa sebagai sumber penghidupan dalam jangka panjang.
