Kisah Nelayan Gorontalo 240 Hari Hanyut dan Terombang-ambing di Samudra Pasifik

Penjaga rumpon, Lukman Latili, setelah ditolong kapal perikanan dan dibawa ke haluan kapal, dan rumpon saat kapal mendekat untuk memberikan pertolongan. POTONGAN VIDEO: KOLEKSI NILMAWATI HUSAIN

Darilaut – Sudah sebulan Lukman Latili berada di atas rumpon yang ditempatkan di Laut Maluku. Ombak yang tinggi disertai angin kencang sudah akrab dengan keseharian pria berusia 63 tahun itu.

Ini dapat dimaklumi karena sudah separuh hidup Lukman bekerja sebagai spesialis nelayan penjaga rumpon – alat bantu penangkapan ikan atau Fish Agregation Device (FAD).

Rumpon ini berfungsi sebagai pemikat ikan. Plankton dan ikan-ikan kecil biasanya akan berkumpul di rumpon.

Otomatis ikan-ikan kecil akan memikat ikan-ikan pelagis yang lebih besar untuk berdatangan. Seperti  ikan cakalang, tongkol, madidihang (tuna sirip kuning), sardin, layang, cumi-cumi dan jenis lainnya.

Di rumpon laut dalam inilah Lukman dengan dibekali bahan makanan dan perangkat komunikasi berjaga sambil memantau ikan dalam jumlah banyak mendekat.

Rumpon ini memiliki jangkar yang berat di dasar laut ratusan meter dengan dihubungkan tali hingga ke permukaan laut. Bagian atas ada bangunan kecil terapung berukuran lebar 4 m dan panjang 7 m.

Selain plankton dan ikan-ikan kecil menghampiri, ini tempat berteduh dan tidur. Terdapat ruang kecil berfungsi sebagai kamar untuk ukuran satu orang.

Bekerja sebagai penjaga rumpon bukan hitungan hari atau pekan, akan tetapi setengah tahun, setahun atau bahkan ada yang lebih.

Sebulan sudah lewat, setelah Lukman berada di rumpon yang dibawa dari Pinolosian, Bolaang Mongondow Selatan, Sulawesi Utara, untuk ditempatkan di Laut Maluku.

Di titik rumpon ini, Pulau Sulawesi, Halmahera dan pulau-pulau kecil lainnya tidak terlihat. Hanya lautan membiru.

Pada Juli 2024, ombak tinggi disertai angin kencang menerjang rumpon yang dijaga Lukman. Tali yang terhubung dengan pemberat putus.

Saat kejadian, ”Hujan, angin (kencang) dan ombak,” kata Lukman kepada Darilaut.id, di rumahnya di Desa Timbuolo Timur, Kecamatan Botupingge, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, pada Senin (19/5).

Hujan deras masih mengguyur. Ombak tinggi lebih dari 5 meter gulung menggulung, dengan arus kuat di Laut Maluku, membawa bagian rumpon yang sudah lepas dari pemberatnya itu terombang-ambing.

Alat komunikasi yang disiapkan, tidak berfungsi dengan baik. Begitu pula jaringan telepon seluler.

Lukman Latili, 63 tahun, nelayan penjaga rumpon. FOTO: DARILAUT.ID

Lukman hanya bisa pasrah. Rumpon yang berada di laut Maluku terbawa arus hingga di Samudra Pasifik.

Bekal yang masih ada, berupa beras dan sedikit ikan, serta rempah-rempah. Ikan untuk lauk diperoleh Lukman dengan memancing atau menangkap dengan peralatan lainnya.

Berhari-hari sudah dilewati. Lukman tidak lagi memasak nasi karena bekal beras menipis. Dibuatlah bubur yang banyak airnya. Air ditampung dari hujan tiap kali mengguyur.

Tak terasa Lukman sudah 2 bulan masih berada di atas rumpon. Perbekalan beras habis. Setelah itu, selama 6 bulan, Lukman hanya makan ikan.

Lampu yang menggunakan tenaga surya sudah tak bisa difungsikan. Lukman berhemat untuk penggunaan penerang, senter, di malam hari.

Malam itu, pada pertengahan bulan Maret 2025, Lukman sedang duduk.

”Saya sudah enam bulan hanya makan ikan,” ujarnya.

Ada kapal mendekat, dan Lukman berteriak, minta pertolongan.

Senter yang masih ada sedikit baterei tersisa “saya nyalakan.” Waktu itu, sekira pukul 18.30, “saya lihat kapal ini terus mendekat,” ujarnya.

”Ini kapal yang akan menolong saya,” kata Lukman, dalam hati.

Lukman menyalakan senter, mereka juga dari atas kapal menyalakan senter.

Di kapal perikanan yang berasal dari Jawa, Jakarta, ada 30-an awak. Mereka awalnya kurang percaya ada orang dalam rumpon ini, apalagi sudah malam.

Lukman sangat senang melhat kapal berukuran panjang sekira 40 meter itu terus mendekat.

”Tolong,” teriak Lukman dengan suara sudah agak parau.

“Tunggu,” ucap salah satu awak dari atas kapal.

Mereka kemudian menurunkan perahu kecil dan berteriak jangan langsung naik. Rumpon atau rakit yang selama 9 bulan menemani Lukman di lautan, diikat lebih dulu di badan kapal.

Setelah tiba di atas kapal Lukman dipeluk, ”Saya dorang polo.”

Kondisi tubuh Lukman sudah sangat lemah, enam bulan hanya makan ikan.

Salah satu awak kapal memapah Lukman ke haluan atau bagian depan kapal. Lukman meminta tolong diberikan nasi seadanya untuk di makan.

“Saya sudah tidak bisa berjalan tegak.”

“Saya minta tolong, biar cuma sedikit nasi,”

Mereka ambilkan nasi. ”Saya rasakan nasi itu sangat keras,” ujarnya.

Nasi sudah sulit dicerna dan ditelan. Nasi ini kemudian dicampur dengan kuah ikan. ”Saya langsung makan pakai tangan.”

Mereka menanyakan identitas diri Lukman. KTP dan lainnya masih tertinggal di rumpon yang diikat di kapal, kemudian diambil. Masih ada telepon genggam, dengan sedikit sisa baterei.

Lukman tidak langsung dibawa ke Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung, Sulawesi Utara. Dirinya masih berada di kapal itu selama seminggu, menunggu jemputan atau kapal lain yang akan ke Bitung.

Lukman, sejak kejadian tali rumpon putus pekan kedua di bulan Juli 2024, hingga diselamatkan kapal perikanan pertengahan Maret 2025, kurang lebih 240 hari di Samudra Pasifik.

Dengan pekerjaan sebagai nelayan penjaga rumpon, Lukman hanya digaji Rp 2 juta per bulan dan tanpa asuransi.

“Asuransi tidak ada,” ujarnya.

Setelah tiba di Bitung, Lukman istrahat dan melanjutkan perjalanan ke Pinolosian. Majikan Lukman atau pemilik rumpon hanya memberikan Rp 500 ribu untuk kembali ke Gorontalo.

Sebanyak Rp 150 ribu digunakan untuk membayar biaya kendaraan ke Gorontalo. (Verrianto Madjowa)

Exit mobile version