Darilaut – Kabupaten Gorontalo Utara bukan hanya sekadar dikenal dengan keindahan destinasi wisata pantai dan laut. Wilayah ini juga memiliki potensi kekayaan alam berupa tambang emas.
Tambang emas lokal ini tersebar di beberapa titik. Salah satunya yang ada di Desa Buloila, Kecamatan Sumalata.
Lokasi tambang tua Buloila dibuka kembali pada tahun 1985. Pengelolaan ini melalui pemberdayaan langsung oleh masyarakat setempat.
Keberadaan tambang emas Buloila sudah ada sejak masa kolonial Belanda. Hingga kini tambang Buloila masih eksis dan terus aktif beroperasi.
Jarak tempuh menuju lokasi tambang emas ini dari Desa Buloila sekitar 4 jam dengan berjalan kaki.
Puluhan tahun keberadaannya, kini kepemilikannya sepenuhnya milik masyarakat lokal. Sisa-sisa galian lubang tambang orang-orang terdahulu, saat ini di buka kembali oleh penambang.
“Orang-orang disini menggali kembali lubang-lubang yang dulunya sempat diolah oleh orang-orang zaman dulu, selain itu mereka juga membuka kembali lubang baru,” ujar Halim, warga Desa Buloila.
Sejauh ini tidak ada pihak yang merasa keberatan ataupun mempermasalahkan dibukanya lokasi tambang emas tersebut. Apalagi, tambang emas itu sudah ada sejak berpuluh-puluh tahun lamanya.
Lokasi tambang tua Buloila juga tidak menjalin kerja sama dengan perusahaan tambang lainnya. Secara keseluruhan pengoperasiannya dilakukan langsung oleh masyarakat setempat.
Komoditi emas di Gorontalo berkembang dan menjadi salah satu modal utama bagi VOC (Verenigde Oostindische Compagnie) — persekutuan dagang asal Belanda yang memiliki hak monopoli atas perdagangan di Asia pada abad ke-17 hingga ke-18.
Namun VOC belum mampu menjangkau seluruh kandungan emas di Gorontalo. Emas tersebar di banyak tempat di Gorontalo, salah satunya di Sumalata.
Sumalata termasuk salah satu lokasi tambang emas yang eksis sejak masa pemerintahan kolonial Belanda, hingga kini masih beroperasi di beberapa titik, dan masih menghasilkan emas. (VM/ Novita J. Kiraman)
