Darilaut – Hari tanpa hujan semakin panjang. Kondisi kering diprakirakan masih berlanjut dan berpotensi semakin meluas di sejumlah wilayah Indonesia.
Perkembangan iklim global masih menunjukkan kondisi yang mendukung berlanjutnya cuaca kering di Indonesia.
Direktorat Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan nilai indeks Niño 3.4 dasarian sebesar +2,45 dan Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -29,2. Kondisi ini mengindikasikan bahwa El Niño kuat masih berlangsung dan berpotensi mengalami penguatan.
Di sisi lain, anomali suhu muka laut di Samudra Hindia pada dasarian III Juli menunjukkan nilai indeks Indian Ocean Dipole (IOD) sebesar +0,44 yang mengindikasikan kecenderungan menuju fase IOD Positif.
Kombinasi fenomena tersebut secara umum berkontribusi terhadap berkurangnya pembentukan awan hujan dan penurunan curah hujan di berbagai wilayah Indonesia, kata Direktorat Meteorologi Publik BMKG.
Sejalan dengan kondisi tersebut, menurut BMKG, prakiraan curah hujan Dasarian I Agustus 2026 menunjukkan dominasi curah hujan kategori rendah di sekitar 92,59% wilayah Indonesia, sementara sekitar 7,41% wilayah lainnya diprakirakan mengalami curah hujan kategori menengah.
Pada periode ini belum terdapat wilayah yang diprakirakan mengalami curah hujan kategori tinggi maupun sangat tinggi.
Meskipun demikian, menurut BMKG, potensi hujan masih dapat terjadi di sejumlah wilayah. Aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial yang melintasi sebagian Sumatra dan perairan sekitarnya diprakirakan mendukung pertumbuhan awan hujan.
Selain itu, keberadaan sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat Bengkulu berpotensi membentuk daerah konvergensi dan konfluensi di wilayah Samudra Hindia barat Sumatera Barat hingga Bengkulu serta di sekitar pusat sirkulasi tersebut, yang dapat meningkatkan peluang terjadinya hujan.
Sementara itu, peningkatan kecepatan angin permukaan hingga lebih dari 25 knot diprakirakan masih terjadi dalam beberapa hari ke depan di beberapa wilayah perairan, antara lain Laut Andaman, Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Timur, perairan selatan Sulawesi Selatan, Laut Banda, dan Laut Arafuru.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan tinggi gelombang laut di wilayah perairan tersebut sehingga perlu menjadi perhatian bagi aktivitas pelayaran dan masyarakat pesisir.
Hari Tanpa Hujan
Hasil monitoring BMKG, Hari Tanpa Hujan (HTH) Dasarian III Juli 2026 menunjukkan sebanyak 1.657 titik pengamatan mengalami Hari Tanpa Hujan Sangat Panjang selama 31–60 hari, sedangkan 306 titik pengamatan lainnya mengalami Hari Tanpa Hujan Ekstrem Panjang lebih dari 60 hari.
Wilayah dengan Hari Tanpa Hujan sangat panjang hingga ekstrem tersebut terutama tersebar di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Maluku Utara, dan sebagian Sulawesi. HTH terpanjang tercatat selama 90 hari di Pos Hujan BPP Pajangan, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta.
Berlanjutnya kondisi tanpa hujan dalam durasi panjang perlu diwaspadai karena dapat mengurangi ketersediaan air serta meningkatkan kerentanan lahan dan vegetasi terhadap kebakaran.
Indikasi meningkatnya dampak musim kemarau juga terlihat dari sejumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat, Aceh, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Kondisi tersebut diperkuat oleh hasil pemantauan citra satelit yang mendeteksi sebaran asap di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.
Berdasarkan arah pergerakannya, asap dari Kalimantan Barat berpotensi melintasi batas negara menuju Sarawak dengan pergerakan dominan ke arah barat laut. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi kering tidak hanya meningkatkan risiko karhutla, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak lintas wilayah, kata BMKG.
Di tengah dominasi kondisi kering, potensi hujan lebat secara lokal masih dapat terjadi. Pada periode 30 Juli–2 Agustus 2026, hujan lebat hingga sangat lebat tercatat di Aceh sebesar 164,3 mm/hari, Sumatera Utara 144 mm/hari, Sumatera Barat 102,5 mm/hari, Kepulauan Riau 97 mm/hari, dan Kalimantan Utara 59 mm/hari.
Kondisi tersebut didukung oleh aktivitas Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial serta anomali OLR negatif yang mengindikasikan peningkatan tutupan awan di sebagian wilayah Indonesia bagian barat hingga tengah.
Dengan demikian, meskipun kondisi musim kemarau semakin menguat di banyak wilayah, peluang hujan lebat secara lokal masih tetap ada.
