Darilaut – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan monitoring dan konservasi penyu berbasis semi-digital. Aplikasi ini diadaptasi dari instrumen pendataan yang telah digunakan oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN).
Dalam program Pengabdian Masyarakat (PPM) Bottom Up ITB tahun 2026 monitoring dan konservasi penyu dilakukan di Desa Eilogo, Kecamatan Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur.
Program tersebut dipimpin Prof. Dr. Mutiara Rachmat Putri dari Kelompok Keahlian Oseanografi Lingkungan dan Terapan, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB. KKP sendiri di antaranya terlibat dalam sosialisasi ke masyarakat untuk literasi laut dan konservasi penyu.
Kepala Pusat Kebijakan Strategis KKP, Syamdidi mengatakan, kegiatan kolaborasi antara KKP dan ITB untuk meningkatkan peran masyarakat pesisir dalam melindungi penyu dan habitatnya.
Pendekatan yang sederhana, partisipatif, dan sesuai dengan kondisi setempat penting agar sistem monitoring dapat digunakan secara berkelanjutan oleh masyarakat, kata Syamdidi.
Syamdidi menjelaskan bahwa wilayah tertinggal dan terluar seperti Desa Eilogo masih menghadapi keterbatasan akses telekomunikasi, infrastruktur, serta tingkat literasi digital yang beragam.




