Darilaut – Dalam sepekan ke depan pengaruh dinamika atmosfer dari skala global hingga skala lokal masih dominan terhadap kondisi cuaca di Indonesia.
Pada skala global, El Niño–Southern Oscillation (ENSO) menunjukkan fase La Niña lemah, dengan SOI tercatat +11.6 dan indeks Niño 3.4 sebesar −0.75.
Direktorat Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan indikator tersebut mengarah pada peningkatan aktivitas konvektif, terutama di kawasan timur Indonesia.
Prediksi BMKG sirkulasi siklonik terbentuk di Samudra Hindia barat Aceh, Samudra Hindia barat Lampung, dan Laut Coral. Sistem ini menginduksi terbentuknya daerah konvergensi di wilayah Samudra Hindia barat Aceh, Samudra Hindia barat Sumatra Utara, dan Samudra Hindia barat Lampung.
Daerah konvergensi lain juga diperkirakan terbentuk di pesisir selatan Jawa Barat hingga pesisir selatan Jawa Timur, pesisir selatan Kalimantan Selatan hingga Selat Makassar bagian selatan, Sulawesi Tengah hingga Sulawesi Tenggara, dan Papua Selatan hingga Papua Nugini.
Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar Siklon Tropis/ sirkulasi siklonik, dan di sepanjang daerah konvergensi atau konfluensi tersebut.
Monsun Asia diprakirakan masih akan memberikan pengaruh kuat terhadap kondisi cuaca di Indonesia, paling tidak hingga dasarian kedua Februari. Dalam beberapa hari ke depan, terpantau adanya pergerakan seruakan dingin (cold surge) seiring dengan penguatan Monsun Asia.
Kondisi tersebut terlihat dari nilai Indeks Surge yang diprakirakan signifikan, disertai peningkatan angin utara serta indeks CENS (Cross Equatorial Northerly Surge) yang berada pada kategori tinggi, kata MKG.
Oleh karena itu, menurut BMKG, potensi cuaca di wilayah Indonesia bagian selatan diprakirakan akan mengalami peningkatan yang signifikan untuk terjadinya hujan dengan intensitas yang cukup tinggi.
Gelombang atmosfer diprediksi aktif di sebagian wilayah Indonesi, yaitu Gelombang Kelvin yang terdeteksi aktif di sumatera bagian selatan, sebagian besar Jawa, Kalimantan bagian selatan dan utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Papua Selatan.
selain itu, menurut BMKG, Gelombang Rossby Ekuator dalam sepekan kedepan juga terpantau aktif di wilayah sebagian besar wilayah Sumatera, Jawa, Bali, NTT, NTB, Kalimantan, Sulawesi, sebagian Maluku dan Maluku Utara, sebagian besar Papua.
BMKG juga mencatat dinamika atmosfer turut dipengaruhi oleh keberadaan Eks Siklon Tropis Penha di Laut Filipina utara Sulawesi, serta Siklon Tropis Mitchell yang terpantau di Australia.
Keberadaan eks -siklon tropis dan siklon tropis tersebut menyebabkan terjadinya belokan dan perlambatan angin (konvergensi) di beberapa wilayah Indonesia, sehingga menciptakan kondisi yang lebih mendukung bagi pertumbuhan dan perkembangan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Eks Siklon Tropis Penha memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca di Indonesia berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di wilayah Maluku Utara, Sulawesi Utara, dan Gorontalo.
Sementara itu, Siklon Tropis Mitchell turut memberikan dampak tidak langsung berupa hujan dengan intensitas sedang yang disertai angin kencang di wilayah Nusa Tenggara Timur.
Dengan mempertimbangkan dinamika atmosfer yang masih signifikan dalam beberapa hari ke depan, BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat berdampak pada bencana hidrometeorologi, seperti hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang.
Kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu ini diharapkan menjadi perhatian dalam perencanaan aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara, serta berbagai kegiatan luar ruang seperti ibadah dan wisata, kata BMKG.
