Konsumsi Ikan Dalam Negeri Menambah Pendapatan Negara, Buat Apa Ribut Ekspor

FOTO: DARILAUT.ID

Jakarta – Tingkat konsumsi ikan masyarakat Indonesia paling cepat untuk menambah pendapatan negara. Karena itu, buat apa ribut dengan ekspor ikan?

Hal ini yang mengemuka dalam diskusi yang diselenggarakan Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO), Sabtu (15/6), di Jakarta.

Pengamat ekonomi kelautan Dr Irwan Muliawan mengatakan, dengan konsumsi ikan di atas 50 kilogram per kapita per tahun saat ini di Indonesia, akan menambah pendapatan bagi negara.

Selain konsumsi, menurut Irwan, bagaimana ikan ini bisa terdistribusi dengan merata di seluruh wilayah Indonesia. Kemudian, bagaimana penjualan ikan secara online lebih dikembangkan.

Begitu pula dengan industri pengolahan yang menghasilkan berbagai macam produk kelautan.

FOTO: DARILAUT.ID

“Konsumsi ikan ini tidak semata (mengajak) ayo makan ikan. Tapi bagaimana ikan ini terdistribusi di dalam negeri,” kata Irwan.

Pengamat kelautan M “Ciput” Putrawidjaya mengatakan, saat ini konsumsi ikan di dalam negeri yang harus lebih dioptimalkan. “Potensi dalam negeri yang dikejar,” ujarnya.

Menurut Ciput, perlu diupayakan agar daya tahan produk lebih lama, sehingga dapat didistribusikan dan dikonsumsi oleh masyarakat yang lebih luas.

Sekarang ini, kata Ciput, terjadi perubahan pola penangkapan bagi awak kapal perikanan. Kapal ikan berada di daerah penangkapan ikan, sementara nelayan bergantian. Ini yang harus diantisipasi di sektor perhubungan, agar ikan ini terdistribusi.

Anggota Dewan Pakar ISKINDO Dr Muh Lukman mengatakan, dengan konsumsi ikan 50 kg per kapita di dalam negeri bila berjalan dengan baik, MSY (Maximum Sustainable Yield) sudah seimbang dengan potensi ikan laut 12,5 juta ton.

Masyarakat yang mengonsumsi ikan terus mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahun. Ini tidak hanya di Indonesia, melainkan di berbagai negara.

Namun, yang menjadi permasalahan, ikan yang dikonsumsi ini berasal dari hasil tangkapan yang tidak terlaporkan.

“Banyak yang makan ikan, tapi unreported,” katanya.

Menurut Ketua umum ISKINDO M Zulficar Mochtar, konsumsi ikan masyarakat Indonesia sebelumnya 38 kg per kapita naik menjadi 50 kg per kapita. Penting untuk menghitung kenaikan konsumsi ikan bukan hanya pada perbaikan gizi masyarakat, melainkan juga pendapatan bagi nelayan dan negara.

FOTO: DARILAUT.ID

Zulficar mengatakan, ke depan sektor kelautan akan menghadapi banyak tantangan yang luar biasa, terutama ancaman eksploitasi dan monopoli.

“Jangan sampai pembangunan maritim ini menjadi simpang siur,” ujarnya.

Diskusi ini serangkaian dengan acara halal bi halal yang dihadiri sejumlah alumni kelautan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan Sekjen Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan Indonesia (Himitekindo) Zaky Syahri.

Diskusi yang dipandu Ketua Harian ISKINDO, Moh Abdi Suhufan dengan tema “Proyeksi Pertumbuhan dan Pendapatan Negara dari Sektor Kelautan 2019-2024.”*

Exit mobile version