Darilaut – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan La Nina lemah berpengaruh terhadap peningkatan hujan di wilayah Indonesia.
Dinamika Atmosfer dalam sepekan ke depan, BMKG memprakirakan pengaruh dinamika atmosfer pada skala global, regional, dan lokal masih signifikan terhadap kondisi cuaca di Indonesia.
Pada skala global, El Nino Southern Oscillation (ENSO) terpantau menguat pada fase negatif yang mengindikasikan La Nina lemah.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan pasokan uap air yang mendukung pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia.
Selain itu, suhu muka laut yang relatif hangat di sebagian perairan Indonesia turut memperkaya pasokan uap air.
Aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO) secara spasial diprakirakan aktif melintasi Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua, Papua Selatan. Kondisi ini berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah-wilayah tersebut.
Selain itu, gelombang ekuator juga terpantau aktif dan dapat memperkuat proses konvektif di sejumlah wilayah. Kombinasi Madden–Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby Ekuator teramati aktif di Laut Sulu, Samudera Pasifik utara Halmahera hingga Papua, Papua Selatan, dan Laut Arafuru, sehingga berkontribusi pada peningkatan aktivitas konvektif dan potensi hujan di kawasan tersebut.
La Nina Lemah
Menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) prakiraan curah hujan Januari – Februari – Maret 2026 mencerminkan pola yang dipengaruhi La Nina, dengan curah hujan yang ditekan di Pasifik tengah dan timur serta peningkatan curah hujan di Pasifik barat dan wilayah daratan yang berdekatan.
Anomali suhu permukaan laut dingin di Pasifik khatulistiwa tengah dan timur diperkirakan akan melemah. Kondisi ini menunjukkan transisi bertahap menuju kondisi netral ENSO.
Di Pasifik khatulistiwa, suhu permukaan laut sedikit mendingin, dengan nilai rata-rata musiman yang konsisten dengan La Nina lemah.
Namun, gradien suhu permukaan laut timur-barat yang meningkat mempertahankan sinyal laut-atmosfer yang lebih khas dari La Nina yang lebih kuat, yang paling jelas tercermin dalam anomali curah hujan.
Untuk Januari – Februari – Maret 2026, prediksi curah hujan di Pasifik khatulistiwa—yang diperkuat oleh peningkatan gradien suhu permukaan laut timur-barat yang positif—tetap konsisten dengan kondisi seperti La Nina.
