Lama Menghilang, Tuna Sirip Biru Kembali ke Laut Inggris

Bluefin tuna

Tuna sirip biru Atlantik. FOTO: WIKIPEDIA

SETELAH 40 tahun tidak terlihat, tuna sirip biru (bluefin tuna) terlihat di laut Inggris. Kemunculan tuna sirip biru yang sekian lama menghilang itu tentunya menimbulkan pertanyaan bagi sejumlah ilmuwan.

Mengapa ikan langka ini tiba-tiba kembali ke Inggris setelah hampir 40 tahun tidak terlihat?

Tuna sirip biru Atlantik ( Thunnus thynnus, Linnaeus 1758) salah satu spesies yang bermigrasi di lautan. Bluefin tuna masuk dalam Daftar Merah organisasi internasional konservasi alam IUCN (International Union for Conservation of Nature). Ikan ini dalam kategori terancam punah.

Akibat eksploitasi berlebihan, spesies ini menurun drastis di Atlantik. Terutama kurun waktu 1960-an hingga pertengahan 2000-an. Untuk memulihkan stok tuna sirip biru dilakukan langkah-langkah pengelolaan, dengan membatasi kuota penangkapan dalam jangka waktu tertentu.

Penelitian terbaru menjelaskan kemunculan tuna sirip biru ini di Inggis. Tim peneliti ini masing-masing Dr Robin Faillettaz dari University of Lille (Prancis), bersama rekannya dari Prancis Gregory Beaugrand dan Eric Goberville,kemudian dan Dr Richard Kirby dari Inggris.

Salah satu alasan kemunculan tuna sirip biru di Inggris, menurut hasil penelitian ini, karena laut di Inggris lebih hangat. Penelitian menunjukkan bahwa hilangnya dan kemunculan kembali tuna sirip biru di perairan Eropa dapat dijelaskan melalui variabilitas hidroklimatik Atlantic Multidecadal Oscillation (AMO).

Dalam penelitian ini, para ilmuwan memeriksa perubahan kelimpahan dan distribusi tuna sirip biru di Samudra Atlantik selama 200 tahun terakhir. Tim peneliti menggabungkan dua pendekatan pemodelan, dengan fokus pada intensitas tangkapan dari waktu ke waktu, distribusi kejadian, yaitu ketika diamati atau ditangkap.

Hasilnya jelas: AMO adalah pendorong utama yang mempengaruhi kelimpahan dan distribusi tuna sirip biru.

“Efek ekologis AMO telah lama diabaikan, dan hasil kami merupakan terobosan dalam memahami sejarah tuna sirip biru di Atlantik Utara,” kata Faillettaz seperti dikutip phys.org.

AMO mempengaruhi proses atmosfer dan oseanografi yang kompleks di belahan bumi utara. Termasuk arah arus laut, kekeringan di darat, frekuensi dan intensitas badai Atlantik.

Diperkirakan setiap 60 hingga 120 tahun, AMO beralih antara fase positif dan negatif untuk menciptakan pergeseran skala cekungan dalam distribusi tuna sirip biru Atlantik. Selama fase AMO hangat, seperti pada pertengahan 1990-an, tuna sirip biru mencari makan ke utara sejauh Greenland, Islandia dan Norwegia dan hampir menghilang dari Atlantik tengah dan selatan.

Contoh paling mencolok dari efek AMO pada tuna sirip biru adalah runtuhnya perikanan tuna sirip biru Nordic besar pada tahun 1963. Keruntuhan ini bertepatan dengan perubahan paling cepat yang diketahui dalam AMO.

Setelah itu, terjadi kekesongan stok di Atlantik utara hingga akhir 1990-an. Kemudian muncul kembali di sekitar Inggris.

Para ilmuwan berharap bahwa tuna sirip biru akan terus bermigrasi ke perairan Inggris dan Laut Utara setiap tahun sampai AMO kembali ke fase dingin. Namun, mereka juga menyoroti bahwa efek tambahan dari pemanasan global pada suhu laut akan membuat respon yang tidak pasti pada tuna sirip biru ke depan.

Penelitian ini juga menemukan osilasi iklim akan mempengaruhi seberapa banyak tuna sirip biru remaja tumbuh menjadi dewasa.

Sebelum melangkah lebih jauh, seperti mengeksploitasi tuna sirip biru untuk komersial maupun rekreasi (olahraga), perlu dipertimbangkan apakah akan lebih baik untuk melindungi spesies ini, dengan menjadikan laut Inggris sebagai ruang yang aman.

Informasi selanjutnya mengenai tulisan ini di sciencemag.org atau Robin Faillettaz et al. Atlantic Multidecadal Oscillations drive the basin-scale distribution of Atlantic bluefin tuna, Science Advances (2019). DOI: 10.1126 / sciadv.aar6993.*

Exit mobile version