Darilaut – Cahaya lampu yang berkilauan di perairan “Mile 201”, tepat di luar Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Argentina, tampak seperti kota terapung di tengah laut. Dari luar angkasa, pemandangan itu terlihat menakjubkan, tetapi di balik cahaya tersebut tersembunyi ancaman ekologis yang serius. Laporan terbaru Environmental Justice Foundation (EJF) mengungkap meningkatnya aktivitas penangkapan cumi-cumi tanpa pengaturan di Atlantik Barat Daya yang berpotensi memicu krisis lingkungan global.
Spesies yang menjadi target utama, cumi-cumi sirip pendek Argentina (Illex argentinus), memiliki peran vital dalam rantai makanan laut. Hewan ini menjadi sumber pangan bagi paus, anjing laut, burung laut, hingga ikan komersial seperti hake dan tuna. Namun, eksploitasi besar-besaran yang dilakukan oleh ratusan kapal laut jarak jauh, mayoritas berbendera Tiongkok telah menekan populasi cumi-cumi hingga ke titik rawan.
Menurut EJF, antara tahun 2019 hingga 2024, jam penangkapan di wilayah Mile 201 meningkat hingga 65 persen, dengan 90 persen aktivitas dikendalikan oleh kapal asal Tiongkok. Padahal, tidak ada pengawasan regional ataupun batas tangkapan yang ditetapkan di perairan ini. Para ahli memperingatkan bahwa satu musim penangkapan berlebih saja dapat memicu keruntuhan populasi cumi-cumi, mengacaukan keseimbangan ekosistem laut dan mengancam keanekaragaman hayati kawasan Atlantik Selatan.




