Darilaut – Upaya pencarian dan pertolongan (search and rescue) masih terus berlangsung memasuki hari ke-6 bencana alam mematikan ambruknya gletser disusul tanah longsor dan banjir bandang dahsyat di wilayah Pegunungan Himalaya, perbatasan Nepal dan Tibet – Cina, Rabu (26/8).
Lebih dari 5.600 orang tewas dan hilang, sementara 10.000 orang telah berhasil diselamatkan sejauh ini, termasuk 252 warga negara asing.
Melansir UN News, jumlah korban tewas yang terkonfirmasi akibat banjir dahsyat di Nepal telah melonjak menjadi 903 orang, dengan lebih dari 4.200 orang masih dinyatakan hilang.
Otoritas Tiongkok melaporkan 16 orang tewas di Cina dan sedikitnya 546 orang masih dinyatakan hilang.
Tim penyelamat dan pekerja kemanusiaan berjuang menembus jalan raya yang terblokir untuk menjangkau wilayah-wilayah yang paling parah terdampak, demikian disampaikan Juru Bicara PBB Stéphane Dujarric pada hari Senin.
Banjir bandang baru-baru ini menjadi bencana alam paling mematikan di Nepal sejak gempa bumi bulan April 2015.
Sedikitnya 65.000 orang membutuhkan bantuan darurat berupa air bersih, sanitasi, dan layanan kebersihan.
Dipicu runtuhnya gletser dan tanah longsor di perbatasan Nepal dan Cina pada hari Rabu, peristiwa ini kini tercatat sebagai bencana alam paling mematikan di Nepal sejak gempa bumi bulan April 2015 yang menewaskan sekitar 9.000 orang.
Di tengah upaya pencarian dan pertolongan yang terus berlangsung, badan-badan PBB telah mulai melakukan penilaian terhadap kebutuhan jangka panjang, termasuk perlindungan bagi lebih dari 22.000 anak, kata Dujarric.
Namun, masih ada kesulitan menjangkau wilayah yang paling parah terdampak.
Akses tetap menjadi hambatan terbesar dalam upaya penanganan bencana, menurut badan bantuan darurat PBB, OCHA.
Jalan raya hanya dapat dilalui hingga wilayah Nuwakot, sementara beberapa ruas jalan yang menghubungkan Kathmandu dengan wilayah-wilayah yang paling parah terdampak masih tertutup total. Pasokan listrik telah pulih di beberapa wilayah.
Pemerintah Nepal telah mengerahkan lebih dari 20.000 personel pencarian dan penyelamatan serta menetapkan status darurat banjir di 15 wilayah administratif (kotamadya), kata Dujarric.
Peningkatan Bantuan
Pada saat yang sama, juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tarik Jašarević, menyatakan bahwa kondisi penampungan yang terlalu padat serta terganggunya layanan air, sanitasi, dan kesehatan meningkatkan risiko wabah penyakit menular.
Penilaian terbaru dari OCHA juga menunjukkan gambaran serius mengenai kebutuhan kemanusiaan, termasuk perkiraan kebutuhan perawatan bagi sekitar 2.600 anak balita yang mengalami severe wasting (kondisi sangat kurus akibat kekurangan gizi akut) serta sekitar 10.500 ibu hamil dan menyusui yang membutuhkan bantuan nutrisi.
OCHA melaporkan bahwa sekitar 19 sekolah mengalami kerusakan, sembilan di antaranya hancur total, dan delapan lainnya digunakan sebagai tempat penampungan bagi keluarga-keluarga yang mengungsi, sementara lebih dari 10.000 anak usia sekolah membutuhkan dukungan psikososial.
Yang paling mendesak, menurut Dujarric, laporan awal mengindikasikan adanya kemungkinan 107 anak terpisah dari orang tua atau pengasuh mereka, sehingga tim tanggap darurat harus memprioritaskan upaya pelacakan dan penyatuan kembali keluarga.
Bencana Belum Berakhir
Kamal Kishore, kepala Kantor PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana (UNDRR), menyoroti peristiwa runtuhnya gletser yang belum pernah terjadi sebelumnya ini dan memperingatkan pekan lalu bahwa “kita masih berupaya memahami sepenuhnya besarnya dampak kerusakan yang terjadi.”
Bencana ini juga berdampak pada wilayah perbatasan di sisi Tibet.
Kepala urusan iklim PBB, Simon Stiell, mengatakan bahwa bencana ini menjadi pengingat betapa rentannya lingkungan pegunungan saat ini, seraya mencatat bahwa para ilmuwan dan masyarakat setempat telah bertahun-tahun memperingatkan tentang risiko perubahan iklim di wilayah tersebut.
“Kita juga tahu bahwa pemanasan iklim—yang dipicu oleh aktivitas manusia dalam membakar batu bara, minyak, dan gas dalam jumlah sangat besar—membuat tragedi seperti ini,” ujarnya.
“Banyak tragedi lainnya di seluruh dunia, menjadi jauh lebih mungkin terjadi, lebih sering, dan lebih parah dampaknya, dengan masyarakat rentan sering kali menjadi pihak yang paling terdampak.
Berikut gambaran mengenai respons yang sedang dilakukan oleh berbagai badan PBB:
• Program Pangan Dunia (WFP) telah menyalurkan hampir 80 metrik ton bahan pangan yang menjangkau sekitar 9.200 orang, dengan bantuan yang diperkirakan cukup untuk kebutuhan selama 15 hari.
• Dana Anak-anak PBB (UNICEF) telah mendistribusikan makanan terapeutik bagi sekitar 500 anak yang mengalami gizi buruk akut dan mengerahkan 15 tim medis darurat.
• Mitra kemanusiaan PBB telah mendirikan pusat koordinasi di Nuwakot untuk memperkuat perencanaan dan pertukaran informasi terkait respons bencana di antara berbagai organisasi yang bertugas di lapangan.
