Darilaut – Hingga saat ini terdapat sektor pertambangan yang memiliki nilai ekonomi tinggi, namun belum digarap dengan baik yaitu Logam Tanah Jarang dan Aspal Buton.
Saat ini, logam tanah Jarang sangat dibutuhkan untuk pembangunan industri energi seperti industri baterai, elektronik dan sebagainya.
Untuk itu, Pusat Riset Teknologi Pertambangan – Badan Riset dan Inovasi Nasional mengangkat tema tentang Logam Tanah Jarang dan Aspal Buton, dalam acara Ngopi Minerba (Ngobrol Bareng Periset dan Batubara) Rabu (11/1) lalu.
Materi pertama berjudul ‘Penentuan Daerah Prospek Logam Tanah Jarang di Pulau Singkep’ disampaikan oleh Periset Pusat Riset Teknologi Pertambangan, Adhika Junara Karunianto.
Karunianto mengatakan Pulau Singkep merupakan salah satu wilayah yang masuk dalam tiga besar penghasil timah terbesar di Indonesia.
Berdasarkan hasil penelitian ternyata di daerah tersebut mengandung unsur logam tanah jarang.
“Daerah potensial logam tanah jarang berdasarkan eksplorasi regional di daerah Singkep adalah eksplorasi daerah granit muncung termasuk bekas galian timahnya dan pelapukan granit muncung yang merupakan zona lateritic,” katanya.
Materi kedua dengan judul ‘Optimalisasi Pemanfaatan Aspal Buton untuk Memenuhi Kebutuhan Aspal Nasional’ disampaikan oleh Agus Miswanto, juga dari Pusat Riset Teknologi Pertambangan.
Menurut Agus kebutuhan aspal Indonesia sebanyak 1,2 juta ton per tahun yang dihasilkan dari 22% aspal minyak produksi Pertamina, 1,74% Aspal Buton dan kekurangannya sebesar 77,39% dari Impor.
Sumber daya aspal Buton sangat besar, yaitu sebesar 792,5 juta ton dan cadangannya sebesar 182,62 juta ton.
Namun, kata Miswanto, saat ini produksi aspal Buton masih sangat rendah yaitu hanya 43.128 ton pertahun.
Miswanto berharap dengan adanya larangan impor aspal dari pemerintah, maka produksi aspal Buton dapat meningkat, mengingat sumber daya tersebut sangat melimpah.
Kepala Pusat Riset Teknologi Pertambangan Anggoro Tri Mursito, mengatakan, logam tanah Jarang saat ini juga sangat dibutuhkan untuk pembangunan industri energi seperti industri baterai, elektronik dan sebagainya.
Indonesia memiliki sumber daya mineral yang melimpah seperti emas, tembaga, platina, nikel, timah, batubara, dan migas, yang memiliki nilai mencapai ribuan triliun rupiah. Sumber daya tersebut saat ini menjadi komoditas ekspor andalan Indonesia.
Presiden Joko Widodo Melalui Kementerian Sekretariat Negara secara tegas menyatakan akan menghentikan impor aspal, pada Selasa 22 September 2022. Hal tersebut dikarenakan potensi aspal yang ada di Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara dinilai sangat besar namun kegiatan produksinya tidak berjalan.
Sejalan dengan hal tersebut, Presiden meminta jajarannya agar pengolahan aspal harus dikerjakan oleh Kabupaten Buton melalui berbagai skema kerja sama baik dari BUMN maupun pihak swasta.
Presiden berharap agar potensi besar tersebut dapat segera direalisasikan sehingga masyarakat akan mendapatkan manfaat dan Kabupaten Buton dapat hidup kembali sebagai industri penghasil aspal.
