Darilaut – Lokasi bencana tanah longsor dan banjir bandang di Pulau Siau Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, batuan penyusun termasuk dalam bagian Formasi Batuan Gunungapi Kalama (QTkv).
Batuan ini tersusun oleh perulangan breksi gunungapi dan lava, bersisipan dengan tuff berbatuapung, kata Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi.
Menurut Pusat Vulkanologi bencana gerakan tanah (tanah longsor) yang terjadi diperkirakan berupa longsoran dan banjir bandang yang dikontrol oleh kondisi geologi dan kemiringan lereng yang curam dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama disertai angin kencang.
Longsoran juga disebabkan oleh erosi dari sungai karena debit air sungai yang sangat tinggi dan air melebihi daya tampung sungai.
Material dari banjir bandang berupa tanah, bebatuan, dan batang kayu. “Jenis bencana ini dapat berpotensi terjadi longsoran dan banjir bandang susulan karena berada di bantaran Sungai, kata Pusat Vulkanologi.
Gerakan tanah berupa tanah longsor dan banjir bandang terjadi di empat Kecamatan, tanggal 5 Januari 2026 sekitar pukul 03.00 Wita.
Pusat Vulkanologi mengatakan secara umum morfologi lokasi bencana dan sekitarnya merupakan lembah dan perbukitan dengan kelerengan landai – curam pada ketinggian 36 – 242 mdpl (meter di atas permukaan laut).
Berdasarkan Peta Geologi Lembar Sangihe dan Siau, Sulawesi, breksi gunungapi dan lava yang bersusunan andesit-basalt umumnya kompak, terkekarkan dan setempat terubah, sebagian lava berstruktur bantal.
Tuff berbatuapung bersusunan dasitan dan umumnya lapuk. Tebal satuan ini lebih dari 200 m.
Dengan kondisi geologi tersebut, kejadian banjir bandang di wilayah terdampak berkaitan erat dengan karakteristik litologi.
Keberadaan breksi gunungapi dan lava yang bersifat kompak namun terkekarkan, serta sisipan tuff berbatuapung yang umumnya lapuk dan mudah tererosi, menyebabkan perbedaan tingkat permeabilitas dan ketahanan batuan terhadap proses pelapukan, kata Pusat Vulkanologi.
Pada saat curah hujan tinggi, menurut Pusat Vulkanologi, air hujan cenderung mengalir sebagai limpasan permukaan akibat terbatasnya infiltrasi pada batuan kompak, sekaligus menggerus material tuff yang lapuk.
Kondisi ini memicu peningkatan suplai sedimen dan material rombakan ke dalam alur sungai, sehingga memperbesar energi aliran dan berpotensi menimbulkan banjir bandang dengan daya rusak yang tinggi.
Lokasi bencana di Kabupaten Kepulauan Sitaro termasuk potensi Menengah – Tinggi. Artinya, pada zona ini berpotensi tinggi terjadi gerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali akibat curah hujan yang tinggi dan erosi kuat.
Pusat Vulkanologi mengatakan gerakan tanah di lokasi tersebut diperkirakan disebabkan oleh faktor-fakto, pertama, tanah pelapukan yang mudah lepas menumpang di atas batuan dasar relatif kedap air.
Kedua, kuatnya erosi sungai yang tidak didukung oleh mitigasi struktural pada dinding/tebing sungai. Ketiga, sistem drainase permukaan yang kurang baik sehingga seluruh air terakumulasi dan terkonsentrasi ke lokasi bencana sehingga mempercepat berkembangnya longsor.
Keempat, curah hujan yang tinggi dan berdurasi lama yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.
