Berdasarkan Peta Geologi Lembar Sangihe dan Siau, Sulawesi, breksi gunungapi dan lava yang bersusunan andesit-basalt umumnya kompak, terkekarkan dan setempat terubah, sebagian lava berstruktur bantal.
Tuff berbatuapung bersusunan dasitan dan umumnya lapuk. Tebal satuan ini lebih dari 200 m.
Dengan kondisi geologi tersebut, kejadian banjir bandang di wilayah terdampak berkaitan erat dengan karakteristik litologi.
Keberadaan breksi gunungapi dan lava yang bersifat kompak namun terkekarkan, serta sisipan tuff berbatuapung yang umumnya lapuk dan mudah tererosi, menyebabkan perbedaan tingkat permeabilitas dan ketahanan batuan terhadap proses pelapukan, kata Pusat Vulkanologi.
Pada saat curah hujan tinggi, menurut Pusat Vulkanologi, air hujan cenderung mengalir sebagai limpasan permukaan akibat terbatasnya infiltrasi pada batuan kompak, sekaligus menggerus material tuff yang lapuk.
Kondisi ini memicu peningkatan suplai sedimen dan material rombakan ke dalam alur sungai, sehingga memperbesar energi aliran dan berpotensi menimbulkan banjir bandang dengan daya rusak yang tinggi.
Lokasi bencana di Kabupaten Kepulauan Sitaro termasuk potensi Menengah – Tinggi. Artinya, pada zona ini berpotensi tinggi terjadi gerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali akibat curah hujan yang tinggi dan erosi kuat.




