Luar Biasa, Nilai 1 Rajungan Bertelur Bisa Rp 7,8 Miliar

Analisis keuntungan penangkapan ranjungan secara bertanggung jawab. DJPT KKP

RAJUNGAN berbeda dengan kepiting bakau. Salah satu komoditas penting untuk tujuan ekspor ini, memiliki bentuk tubuh yang lebih ramping dengan capit yang lebih panjang dan memiliki berbagai warna yang menarik pada karapasnya.

Rajungan (blue swimming crab) memiliki duri akhir pada kedua sisi karapas relatif lebih panjang dan runcing. Melihat warna dan jumlah duri pada karapas, mudah membedakan rajungan dengan kepiting bakau.

Terdapat beberapa jenis rajungan yang hidup di dasar perairan. Sesekali, rajungan ini dapat terlihat didekat permukaan atau kolom perairan pada malam hari. Terutama, saat mencari makanan ataupun berenang dengan sengaja mengikuti arus.

Kehidupan rajungan pada lingkungan air laut, dan tidak dapat hidup pada kondisi tanpa air.

Rajungan ditemukan hampir di seluruh perairan Indonesia. Pada kondisi perairan substrat pasir, berlumpur dan di sekitar perairan dengan vegetasi lamun dan mangrove. Dari zona intertidal (pasang surut) hingga kedalaman lebih 50 meter.

Penyebaran rajungan terdapat di daerah Asia Pasifik. Sepanjang Indo Pasifik Barat dari Afrika timur, Laut Merah sampai Jepang, Filipina, negara-negara Asia Tenggara, terus ke Indonesia, Australia timur, Kepulauan Fiji, Tahiti dan Selandia Baru bagian utara.

Di Indonesia, Rajungan menyebar dari sebelah utara Pulau Sumatera sampai ujung timur Papua.

Tingginya permintaan konsumen terhadap rajungan, memungkinkan terjadinya penurunan stok rajungan di alam.

Karena itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah mengeluarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI no 70/Kepmen-KP/2016 tentang Rencana Pengelolaan Perikanan Rajungan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.

Hal ini yang mendasari pentingnya dilakukan pengelolaan perikanan rajungan yang berkelanjutan, agar sumber daya ini tetap lestari.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti meminta kepada masyarakat agar dapat mengelola rajungan secara berkelanjutan. Untuk mendapatkan rajungan, dengan menggunakan alat penangkapan ikan ramah lingkungan dan jangan menangkap yang bertelur.

Direktur Jenderal Perikanan Tangkap M Zulficar Mochtar mengatakan, 1 ekor rajungan bertelur dapat menghasilkan 1,3 juta telur. Hitungan sederhana, dengan Survival Rate (SR) 60 persen, dapat menghasilkan 130 Ton Rajungan. Dengan harga Rp 60.000 per kilogram, maka nilai 1 rajungan bertelur bisa mencapai Rp 7,8 Miliar.

“Potensi sumberdaya ikan sangat bisa mensejahterakan, sehingga sumberdaya tersebut harus dikelola berkelanjutan,” kata Zulficar, Senin (29/7).*

Exit mobile version