Pendekatan tersebut digunakan untuk merespons kebutuhan hunian yang adaptif sekaligus mempertimbangkan aspek keberlanjutan.
Sebelum berlaga di TISDC 2026, KALA-REKA terlebih dahulu mengikuti Sayembara Wakaf Desain Arsitektur Rumah Pasca Bencana Banjir Sumatera yang diinisiasi oleh Ikatan Arsitek Indonesia Jawa Barat bersama Yayasan Arsitektur Hijau Nusantara. Dalam ajang tersebut, karya ini terpilih sebagai salah satu karya terbaik pada Maret 2026.
Rekam jejak tersebut menunjukkan bahwa KALA-REKA tidak lahir sebagai gagasan yang sekali jadi. Karya ini telah melalui proses pengembangan, evaluasi, dan pengujian di berbagai forum kompetitif sebelum akhirnya dibawa ke panggung internasional.
Dalam proses penyusunannya, Muhammad Ikhsan dan Risky Husain dibimbing oleh Ar. Hasrul Nurliansyah, dosen Arsitektur UNG.
Pendampingan dosen menjadi bagian penting dalam proses penguatan konsep, ketajaman desain, serta kesiapan karya untuk berkompetisi.
Keberhasilan ini sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa Arsitektur Fakultas Teknik UNG mampu membawa gagasan yang berangkat dari isu kebencanaan dan keberlanjutan ke dalam percakapan desain global.
KALA-REKA tidak hanya menawarkan bentuk arsitektural, tetapi juga membawa pendekatan yang menekankan efisiensi material, fleksibilitas ruang, dan kemandirian sistem sebagai bagian dari respons terhadap kondisi pascabencana.




