Darilaut – Kurang dari separuh target nasional yang ditetapkan untuk melindungi tumbuhan, hewan, dan ekosistem dunia berada di jalur yang tepat. Dunia masih terjebak dalam tiga krisis yang saling berkaitan: perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi.
Demikian peringatan PBB dalam sebuah laporan terbaru, beberapa hari sebelum berbagai negara berkumpul di Yerevan, Armenia, untuk menghadiri konferensi keanekaragaman hayati COP17.
Kesepakatan penting yang dicapai di Montreal pada tahun 2022—Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal—menetapkan visi untuk “hidup selaras dengan alam” pada tahun 2050, dengan tindakan mendesak yang harus dilakukan paling lambat tahun 2030.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa dunia tertinggal dalam upaya ini.
“Keanekaragaman hayati menopang kehidupan di Bumi,” tulis Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dalam laporan tersebut.
“Menjaga keanekaragaman hayati sangat penting bagi kesehatan planet kita, ketahanan ekonomi kita, dan kesejahteraan seluruh umat manusia.”
Melansir UN News salah satu tujuan utama dari kesepakatan tersebut adalah melindungi setidaknya 30 persen daratan, perairan darat, wilayah pesisir, dan lautan di dunia pada tahun 2030.
Namun, laporan tersebut menemukan bahwa meskipun komitmen saat ini dipenuhi, hanya 26 persen daratan dan 12 persen lautan yang akan terlindungi pada tenggat waktu tersebut.




