Darilaut – Sejumlah mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) melakukan pendampingan pembuatan alat desalinasi dan filtrasi air laut di Kota Pekalongan, Jawa Tengah.
Lokasi ini berada di kawasan yang rawan banjir rob, salah satunya, di Kelurahan Degayu, Kecamatan Pekalongan Utara.
Alat desalinasi dan filtrasi air laut menjadi penting karena di kawasan ini masyarakat setempat dipaksa terbiasa memanfaatkan air payau yang lengket dan dapat membuat gatal-gatal untuk kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, Tim Peduli Pesisir ITB terdorong untuk melakukan pengabdian masyarakat dengan membuat alat desalinasi dan filtrasi air laut. Kegiatan ini mendapat sokongan dan bantuan dana sepenuhnya dari Direktorat Kemahasiswaan ITB.
Mengutip Itb.ac.id, desalinasi merupakan proses pengurangan kadar garam berlebih pada air sementara filtrasi merupakan proses membuang zat yang tidak diperlukan pada air, seperti sedimen, rasa, dan bau, untuk menghasilkan air yang lebih baik.
Pembuatan alat desalinasi dan filtrasi menggunakan alat dan bahan yang terjangkau dan mudah ditemukan masyarakat.
Bahan alat desalinasi yang diperlukan adalah kayu sengon, plastik mika, pipa ukuran 2 inci, dan plastik mulsa.
Kayu sengon yang digunakan dirangkai hingga menyusun empat tingkatan tangga yang diberi dinding di bagian sampingnya.
Selanjutnya, plastik mulsa direkatkan di setiap bagian anak tangga sehingga air yang dimasukkan tidak akan merembes ke kayu sengon.
Langkah terakhir adalah memberikan tutupan plastik mika. Harga per alatnya berkisar Rp300.000 dan dapat lebih murah jika menggunakan kayu bekas.
“Konsep alat yang kami usung ini mengandalkan evaporasi. Alat ini mampu menampung 20 L air. Cara kerjanya, air payau atau asin yang dimasukkan ke dalamnya akan dijemur di bawah terik matahari,” kata anggota tim pengabdian masyarakat ITB yang juga penanggung jawab pembuatan alat, Filan Muhammad, seperti dikutip dari Itb.ac.id, Rabu (29/6).
Ketika proses penguapan terjadi, garam yang memiliki massa lebih berat akan tertinggal di plastik mulsa sementara air murni akan menguap dan menempel pada bagian dalam plastik mika.
“Karena plastik mika memiliki kemiringan, air bebas garam tadi akan turun ke wadah penampungan,” ujar Filan.
Mahasiswa Oseanografi ini mengatakan, jumlah air tawar yang dikeluarkan adalah 40% dari total air yang dimasukkan. Proses desalinasi ini bergantung pada intensitas cahaya matahari yang diberikan.
Kelurahan Degayu merupakan wilayah yang cocok untuk tempat uji coba alat ini karena memiliki curah hujan yang rendah dan memiliki suhu panas khas daerah pesisir. Air yang dihasilkan mampu digunakan masyarakat untuk mandi.
“Air yang dihasilkan benar-benar murni H2O tanpa mineral apapun. Oleh karena itu, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk kelayakannya sebagai air minum,” kata Salwa Azharelfa, anggota tim lainnya.
Sementara alat filtrasi yang dibuat, menggunakan beberapa lapis penyaring. Lapisan tersebut berturut-turut dari atas adalah spons–zeolite/manganese–spons–arang–spons–silika–spons– sabut kelapa–spons.
“Zeolite/manganese berguna untuk menyerap kation logam berat. Sedangkan arang untuk menyerap bau, menjernihkan air, dan menghilangkan kotoran. Kami memilih silika untuk mengurangi padatan tersuspensi pada air dan menjadikan sabut kelapa sebagai penyaring kotoran pada air,” kata Ketua Tim Peduli Pesisir ITB, Riyadi Zakia.
Pembuatan alat filtrasi tersebut hanya memakan biaya kurang lebih Rp50.000. Pengaplikasiannya dapat diletakkan pada jalur air dari tandon air setiap rumah sehingga dapat digunakan langsung.
Setelah diuji menggunakan water quality meter, air hasil filtrasi memiliki tingkat kekeruhan yang lebih rendah dan penurunan pH mencapai 0,06.
Tim Peduli Pesisir ITB tidak hanya menjelaskan cara kerja alat, tetapi turut mengajak masyarakat setempat untuk bersama-sama praktik membuat alatnya. Masyarakat berduyun-duyun ikut membuat dua alat tersebut.
“Kami berharap transfer ilmu yang dilakukan oleh mahasiswa ITB ini dapat membantu meringankan permasalahan masyarakat Kelurahan Degayu. Semoga ke depan alat ini bisa terus dikembangkan dan dapat dilakukan dalam skala masif,” kata dosen pembimbing Sella Lestari Nurmaulia.
