Darilaut – Maladewa memiliki ekosistem terumbu karang, hutan mangrove dan vegetasi pesisir sebagai fondasi bagi perekonomian negara, sistem pangan, serta perlindungan terhadap kenaikan permukaan laut.
Melansir Wmo.int dalam percakapan global mengenai perubahan iklim, data ada di mana-mana. Satelit memindai lautan. Sensor melacak perubahan atmosfer. Model memproyeksikan risiko masa depan dengan tingkat akurasi yang semakin tinggi.
Namun, bagi banyak negara yang berada di garis depan perubahan iklim, masalahnya bukanlah kurangnya informasi, melainkan bagaimana mengubah informasi tersebut menjadi tindakan nyata.
Inilah kesenjangan yang coba diatasi oleh Work Package 3 (WP3), Proyek Demonstrator Maladewa dari iClimateAction.
Pada intinya, WP3 mengajukan pertanyaan sederhana namun mendesak: bagaimana data iklim dapat benar-benar mendukung pengambilan keputusan?
Jawabannya kini mulai terwujud di Maladewa atau dikenal juga dengan Maldives.
Proyek iClimateAction dirancang untuk mengatasi masalah struktural dalam ekosistem iklim global: fragmentasi.
Tiga pelaku utama menjadi inti dari sistem ini:
• World Meteorological Organization (WMO), yang mengoordinasikan pengamatan dan layanan iklim
• Global Climate Observing System (GCOS), yang menetapkan Variabel Iklim Esensial (Essential Climate Variables atau ECV) yang diperlukan untuk memahami iklim.
• Group on Earth Observations (GEO), yang menghubungkan data, pengguna, dan aplikasi di seluruh komunitas praktisi global.
Secara individu, masing-masing memainkan peran penting. Bersama-sama, mereka membentuk tulang punggung rantai nilai data iklim global.
Namun secara historis, rantai ini tidak selalu berfungsi sebagai satu kesatuan yang utuh.
Data dihasilkan tanpa penyelarasan yang memadai. Standar telah ada namun tidak diterapkan secara konsisten. Informasi tersedia namun tidak ditindaklanjuti dalam bentuk keputusan.
iClimateAction berupaya mengubah hal tersebut dengan memperkuat koordinasi, harmonisasi, dan interoperabilitas data di antara lembaga-lembaga ini, serta menguji hasil nyata dari koordinasi tersebut dalam praktik. WP3 adalah wadah di mana ambisi ini beralih dari tingkat global menuju implementasi lokal.
Laboratorium Hidup
Maladewa adalah negara di mana perubahan iklim telah mengubah masa depan.
Memahami bagaimana ekosistem terumbu karang, hutan bakau dan vegetasi pesisir berubah dan dapat mendukung upaya adaptasi menjadi prioritas nasional.
Sejak tahun 2024, Maladewa telah bekerja sama dengan inisiatif Global Ecosystems Atlas dari GEO—dengan dukungan dari Departemen Lingkungan Hidup, Pangan, dan Urusan Pedesaan (Defra) Inggris—untuk mengembangkan peta ekosistem nasional pertama negara tersebut melalui program In-Country National Mapping Accelerator.
Program National Accelerator dalam Global Ecosystems Atlas merupakan proyek yang dipimpin oleh negara terkait, yang dirancang untuk membangun kapasitas lokal dalam menghasilkan peta ekosistem yang mencakup seluruh wilayah (wall-to-wall).
Peta-peta ini diselaraskan dengan Global Ecosystem Typology (GET) dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan dapat langsung diintegrasikan ke dalam Global Ecosystems Atlas.
Program ini memadukan pengumpulan data lapangan secara langsung, anotasi geospasial, dan pemetaan berbasis kecerdasan buatan (AI), dengan mempertemukan para ahli nasional dan tim teknis internasional yang kecil.
Dengan memampukan negara-negara untuk menghasilkan dan memvalidasi data ekosistem berkualitas tinggi secara mandiri, program ini membantu mengatasi kesenjangan data yang krusial sekaligus membangun kemampuan jangka panjang di dalam negeri.
Di Maladewa, National Accelerator ini dilaksanakan melalui kerja sama antara GEO dan Kementerian Pariwisata dan Lingkungan Hidup, yang melanjutkan upaya pemetaan ekosistem sebelumnya yang dilakukan oleh IUCN pada tahun 2019.
Inilah alasan mengapa Maladewa dipilih sebagai lokasi percontohan untuk demonstrator ekosistem dalam WP3.
Negara ini memiliki upaya pemetaan ekosistem yang sudah berjalan dan dipimpin secara nasional, yang kini dapat diperluas untuk menguji bagaimana informasi iklim dapat lebih baik mendukung pengambilan keputusan berbasis ekosistem.
Melalui kesepakatan formal antara GEO dan United Nations University – Institute for Environment and Human Security (UNU-EHS), demonstrator ini mempertemukan keahlian ilmiah, sistem data global, dan pemangku kepentingan nasional untuk menjawab pertanyaan praktis: bagaimana variabel iklim dapat dikaitkan dengan informasi ekosistem dengan cara yang secara langsung mendukung perencanaan adaptasi dan ketahanan.
