Darilaut – Data iklim biasanya disusun berdasarkan Variabel Iklim Esensial atau Essential Climate Variables (ECV) seperti suhu, curah hujan, atau permukaan laut—yang didefinisikan dan distandardisasi oleh Global Climate Observing System (GCOS).
Inti dari proyek percontohan ini adanya perubahan metodologis.
Sebaliknya, ekosistem dipahami melalui konsep Kelompok Fungsional Ekosistem atau EFG (Ecosystem Functional Groups), seperti terumbu karang berbatu di zona subtidal, hutan dan semak belukar di zona intertidal, atau hutan hujan dataran rendah tropis, sebagaimana didefinisikan oleh IUCN.
Hingga saat ini, kedua kerangka kerja tersebut sebagian besar berjalan secara terpisah. Proyek percontohan Work Package 3 (WP3) di Maladewa berupaya untuk menyatukan keduanya.
Melansir Wmo.int dengan menghubungkan Variabel Iklim Esensial (Essential Climate Variables atau ECV) dan EFG, United Nations University – Institute for Environment and Human Security (UNU-EHS) sedang mengembangkan kerangka kerja untuk memahami dan menilai kerentanan ekosistem terhadap perubahan iklim.
Hal ini memungkinkan para pengambil keputusan untuk mengetahui di mana solusi berbasis alam dapat memperkuat ketahanan.
Terlepas dari kompleksitas teknis dalam pelaksanaannya, proyek percontohan ini menandai perubahan nyata: dari sekadar mengamati iklim menjadi memahami dampaknya serta mengambil tindakan nyata berdasarkan pemahaman tersebut.



