Ketua tim, Nurul Fauziah Sabir, menjelaskan bahwa tim menggunakan berbagai metode edukatif, mulai dari permainan interaktif, pengenalan tas siaga bencana, hingga simulasi kebencanaan. Melalui pendekatan tersebut, anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai kesiapsiagaan, tetapi juga diajak mengenali tindakan yang perlu dilakukan ketika menghadapi keadaan darurat.
Pembelajaran dirancang agar pesan keselamatan dapat diterima secara lebih menarik dan mudah diingat, kata Nurul.
Keunikan program ini terletak pada penerapan nilai huyula, yaitu semangat gotong royong dan kerja sama yang menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Gorontalo. Nilai tersebut diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran untuk menanamkan pemahaman bahwa kesiapsiagaan bencana bukan hanya tentang menyelamatkan diri sendiri, melainkan juga membangun kepedulian dan saling membantu ketika menghadapi keadaan darurat.
Inovasi ini juga menghubungkan pendidikan kebencanaan dengan persoalan lingkungan melalui pemanfaatan sampah plastik pantai sebagai media pembelajaran. Pendekatan ini membuka ruang bagi anak-anak untuk belajar mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Hal ini sekaligus sebagai wadah untuk memahami bahwa kepedulian terhadap kawasan tempat tinggal merupakan bagian dari “upaya membangun masyarakat yang lebih tangguh menghadapi bencana,” kata Nurul.




