Mengapa Gempa Dahsyat Terjadi di Sarangani, Phivolcs: Ada Palung Cotabato dan Patahan Lokal

Gempa Bumi Lepas Pantai Sarangani Berkekuatan Magnitudo 7,8 pada hari Senin 8 Juni 2026 dan gempa susulan hingga pukul 12.00 siang. GAMBAR: PHIVOLCS

Darilaut – Gempa bumi dahsyat magnitudo (M)7,8 di Laut Sulawesi mengguncang Sarangani dan provinsi sekitarnya di Mindanao, Filipina Selatan, pada Senin (8/6) pukul 07.37 pagi 

Mengapa gempa dahsyat terjadi di Sarangani? Menurut Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina (Philippine Institute of Volcanology and Seismology-Phivolcs) Sarangani dan provinsi-provinsi tetangganya mengalami gempa bumi karena terletak di salah satu wilayah aktif seismik di Filipina.

Pantai Sarangani menghadap Palung Cotabato, struktur penghasil gempa utama. Selain itu, terdapat patahan lokal di sekitarnya, beberapa berpotensi tersembunyi oleh endapan baru-baru ini, kata Phivolcs.

Phivolcs mengatakan palung Cotabato dan patahan aktif ini mampu menghasilkan gempa bumi kecil hingga besar.

Sebeumnya, gempa bumi kuat pernah memengaruhi Sarangani dan sekitarnya. Phivolcs mengatakan setidaknya tujuh gempa bumi signifikan dengan magnitudo berkisar antara M5.7 hingga M8.0 memengaruhi Sarangani dan provinsi-provinsi terdekat antara tahun 1917 dan 2023 berdasarkan catatan sejarah (SEASEE, 1985) dan Katalog Gempa Bumi DOST-PHIVOLCS.

Balai Desa Malalan di Jose Abad Santos, Davao Occidental, runtuh setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 melanda Sarangani pada Senin pagi (8 Juni 2026). Aktivitas kerja dan sekolah dihentikan di provinsi tersebut. FOTO: PNA

Gempa bumi yang merusak terakhir di Sarangani dan sekitarnya adalah gempa bumi berkekuatan MW 6.8 yang terjadi pada 17 November 2023.

Pada Senin 8 Juni 2026, gempa bumi dahsyat kembali mengguncang Sarangani dan sekitarnya dengan magnitudo 7,8.

Gempa bumi tersebut memiliki episentrum di lepas pantai yang terletak 32 kilometer di sebelah barat Maasim, Sarangani. Gempa berada di kedalaman sekitar 33 kilometer.

Berdasarkan lokasi gempa bumi dan distribusi gempa susulan, gempa tersebut mungkin disebabkan oleh subduksi di sepanjang Palung Cotabato.

Gempa susulan ini dapat berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu, dan beberapa mungkin terasa di provinsi-provinsi terdekat.

Peristiwa gempa Sarangani telah memicu tsunami. Gelombang tsunami tercatat di sepanjang pantai Kiamba dan Maasim, Sarangani, dan Kalamansig, Sultan Kudarat, dengan ketinggian sekitar 1 meter, berdasarkan data dari Stasiun Pemantauan Permukaan Laut DOST-PHIVOLCS. Gelombang tsunami dengan ketinggian kurang dari 1 meter juga tercatat di Kota Mati dan Kota Zamboanga.

Penilaian Awal

Penilaian awal menunjukkan bahwa Kota General Santos adalah yang paling parah terkena dampak ketika gempa terjadi pada Senin pukul 7.37 pagi hari Senin di Laut Sulawesi.

Bangunan roboh atau mengalami kerusakan akibat gempa dahsyat di lepas pantai Saranggani, Mindanao, Filipina Selatan, pada Senin (8/6) pagi. FOTO: Via Facebook Gensan News Online

Hingga Selasa pukul 07.00 pagi, Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina mencatat 1.055 gempa susulan, dengan magnitudo berkisar antara 1,3-6,7.

Jumlah korban tewas akibat gempa lepas pantai Sarangani, meningkat menjadi 37 orang. Melansir Kantor Berita Filipina, Philippine News Agency (PNA)  Wakil juru bicara Kantor Pertahanan Sipil (OCD), Diego Agustin Mariano, mengatakan hingga Selasa (9/6) pukul 06.00, tercatat empat korban tewas di Wilayah 11 (Davao) dan 33 di Wilayah 12 (SOCCSKSARGEN).

“Ini masih dalam proses validasi,” kata Mariano.

Ada 18 kematian yang sedang divalidasi di provinsi Sarangani dan Kota General Santos, keduanya di Wilayah 12, dan tiga di South Cotabato.

OCD belum merilis angka kerusakan yang disebabkan oleh gempa kuat tersebut.

Dampak Gempa Sarangani di Indonesia

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, mengatakan, gempa yang berada di lepas pantai Sarangani, Mindanao itu berdampak tsunami di sebagian wilayah Indonesia.

“Hasil pemantauan BMKG, terjadi kenaikan tinggi muka air laut di sejumlah wilayah, di antaranya Loloda pada 07.20 WIB dengan ketinggian 0,09 m, serta pada pukul 07.27 WIB di Ulu Siau setinggi 0,18 m dan Melonguane setinggi 0,32 m,” kata Faisal di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta (8/6).

Selanjutnya, sensor tide gauge di Tahuna mendeteksi ketinggian air setinggi 0,3 m pada pukul 06.58 WIB, disusul wilayah Paleleh yang mencatat ketinggian 0,45 m pada pukul 07.34 WIB, serta Tanjung Sidupa yang merekam 0,32 m pada pukul 07.39 WIB.

Berdasarkan lokasi episenter dan kedalamannya, gempa ini berjenis dangkal akibat aktivitas subduksi lempeng dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).

Kerusakan di Sangihe dan Talaud

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 1.160 jiwa mengungsi dan 94 kepala keluarga terdampak.

Sebagian besar pengungsi berada di wilayah Sangihe, sementara di Kecamatan Kepulauan Marore masih terdapat pengungsi di lokasi evakuasi, sedangkan sebagian warga di wilayah lain mulai kembali ke rumah masing-masing.

Rumah warga yang terdampak gempabumi Magnitudo 7.7 pada Senin (8/6). FOTO: BPBD Provinsi Sulawesi Utara/BNPB

Dampak kerusakan infrastruktur sementara meningkat menjadi 94 unit rumah rusak, 2 rumah ibadah, 2 sekolah, 1 rumah dinas guru, serta 1 gedung GMIST 76 yang masih dalam proses pendataan.

Di Kabupaten Kepulauan Sangihe tercatat 83 rumah rusak dengan rincian 54 rusak berat, 21 rusak sedang, dan 8 rusak ringan.

Sementara di Kabupaten Kepulauan Talaud terdapat 11 rumah rusak, 1 rumah sakit, dan 1 gudang pelabuhan perintis.

Exit mobile version