Menurunnya Populasi Kuda Laut Penanda Degradasi Lingkungan Pesisir

Kuda laut di perairan Gorontalo. FOTO: DONALD RAYMOND WAHANI

Darilaut – Menurunnya populasi kuda laut dapat menjadi penanda adanya degradasi lingkungan pesisir yang berpotensi memengaruhi stok ikan dan keberlanjutan perikanan masyarakat.

Kuda laut berperan penting sebagai indikator kesehatan ekosistem laut, kata Kepala Pusat Riset Sistem Biota Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Decky Indrawan Junaedi, dalam lokakarya “Perspektif Masyarakat Pesisir dalam Mendukung Keberlanjutan Kuda Laut di Perikanan Indonesia” di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Senin (18/5).

Keberadaan kuda laut di wilayah lamun, bakau, maupun terumbu karang menunjukkan kondisi lingkungan yang masih baik dan mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan.

“Dengan kita mengonservasi kuda laut – mengonservasi artinya menjaga, kita melindungi, jangan sampai dia punah, itu sebetulnya secara tidak langsung kita menjaga lingkungannya, termasuk menjaga ikan-ikan yang di sana tetap bisa beranak-pinak,” ujar Decky, seperti dikutip dari Brin.go.id

Karena itu, Decky menegaskan pentingnya pelibatan masyarakat pesisir dalam mendukung keberlanjutan kuda laut.

“Bila si kuda laut ini masih ada, Ibu dan Bapak, ini berarti kondisi lingkungan tempat tinggalnya masih membuat dia betah tinggal di sana, karena memang kondisinya masih baik,” kata Decky.

Decky menjelaskan bahwa isu maritim, termasuk konservasi dan perikanan, menjadi salah satu agenda riset utama BRIN. Menurutnya, BRIN terus aktif mendukung kebutuhan penelitian yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya laut melalui kerja sama dengan kementerian, pemerintah daerah, maupun organisasi nonpemerintah.

Kegiatan ini mempertemukan peneliti, pemerintah, organisasi nelayan, dan mitra internasional untuk mendiskusikan kondisi ekosistem pesisir, konservasi kuda laut, serta keberlanjutan perikanan Indonesia.

Lokakarya tersebut diselenggarakan oleh Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), BRIN, dan Project Seahorse University of British Columbia sebagai ruang dialog antara temuan ilmiah dan pengalaman masyarakat pesisir terkait konservasi dan pengelolaan kuda laut.

Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat KNTI, Sugeng Nugroho, mengatakan, laut bagi nelayan bukan sekadar ruang ekonomi, tetapi juga ruang budaya yang harus dijaga keberlanjutannya.

Decky menilai konservasi kuda laut perlu dilakukan secara luas dengan melibatkan masyarakat pesisir dan nelayan tradisional sebagai penjaga ekosistem laut.

“Laut bagi nelayan bukan sekadar ruang ekonomi, bukan sekadar ruang produksi, tapi laut bagi nelayan merupakan ruang kebudayaan yang harus terus-menerus kita jaga kelestariannya,” ujarnya.

Sugeng menyoroti berbagai ancaman terhadap ekosistem laut, mulai dari eksploitasi sumber daya yang berlebihan hingga penggunaan alat tangkap destruktif yang merusak habitat pesisir seperti terumbu karang dan padang lamun.

Kegiatan konservasi ini harus dilakukan dalam pengertian luas. Artinya, harus melibatkan para nelayan, karena kita tahu bahwa nelayan tradisional bukan hanya seorang nelayan, juga penjaga laut, kata Sugeng.

Exit mobile version