Darilaut – Hasil analisis terbaru Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) membahas meningkatnya kekhawatiran publik tentang mikroplastik dan nanoplastik yang ditemukan dalam makanan dan minuman.
Melansir UN News, para ilmuwan telah mendeteksi partikel plastik kecil dalam darah manusia, paru-paru, ASI, dan plasenta, yang mengkonfirmasi paparan yang meluas.
Namun, regulator kekurangan metode yang andal dan terharmonisasi untuk secara konsisten mendeteksi dan mengukur partikel-partikel tersebut, sehingga sulit untuk menilai risiko yang jelas terhadap kesehatan manusia.
Laporan tersebut mencatat bahwa fasilitas daur ulang dapat berkontribusi pada polusi mikroplastik, terutama selama proses daur ulang mekanis yang memecah plastik menjadi fragmen yang lebih kecil.
“Semuanya harus dimulai dengan proses daur ulang yang terkontrol dengan baik, termasuk pembersihan dan penghapusan kontaminan kimia,” kata Vittorio Fattori, seorang petugas keamanan pangan di FAO.
Menuju Standar Global
Temuan ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi diskusi yang sedang berlangsung di Komisi Codex Alimentarius, badan standar pangan internasional yang didirikan oleh FAO dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Saat ini, negara-negara menerapkan pendekatan peraturan yang berbeda untuk plastik daur ulang dan bahan kontak makanan, yang menciptakan tantangan bagi perdagangan dan perlindungan konsumen.
“Peran kami adalah memberikan dukungan kepada negara-negara dalam menyelaraskan misalnya peraturan tentang implikasi keamanan pangan yang berkaitan dengan bahan kemasan,” kata Fattori.
Menurut laporan tersebut, standar global yang harmonis akan membantu negara-negara memperkuat sistem keamanan pangan berbasis sains sekaligus membantu negara-negara mengurangi limbah plastik.
Sebagai catatan, mikroplastik merupakan partikel plastik kecil dengan diameter hingga 5 mm. Nanoplastik memiliki ukuran jauh lebih kecil dibandingkan mikroplastik, berkisar antara 1 hingga 1.000 nanometer.
