Darilaut – Ada beragam cara membangunkan sahur di bulan suci Ramadan. Di Kota Gorontalo, untuk membangunkan sahur, warga menggunakan instrumen bambu yang sudah dipotong dalam jumlah banyak, diiringi dengan satu penabuh genderang.
Di Turki, instrumen utama untuk membangunkan sahur dilakukan ribuan penabuh genderang dengan menggunakan pakaian gaya Ottoman.
Pada Senin 11 Maret 2024 malam, ribuan warga Gorontalo memadati jalan Nani Wartabone (jalan eks D.I. Panjaitan).
Mulai dari gerbang kampus Universitas Negeri Gorontalo (UNG) hingga perempatan lapangan Taruna Remaja dipadati peserta ketuk sahur dan warga yang ingin menonton.
Ketuk sahur dengan alunan musik religi ini melintasi sejumlah ruas jalan di Kota Gorontalo, setiap malam, menjelang sahur.
Peserta ketuk sahur menggunakan truk yang membawa penabuh genderang, kemudian diiringi ratusan peserta yang menggunakan bambu untuk diketuk.
Dengan menggunakan pengeras suara, penabuh genderang, dan ketukan bambu berirama mengukiti alunan musik religi.
Rektor UNG Prof. Dr. Eduart Wolok, melepas ribuan warga yang ikut serta dalam rombongan koko’o atau ketuk sahur tersebut.
Rombongan memulai ketuk sahur dengan rute pintu gerbang UNG sampai Kelurahan Talumolo.
Koko’o adalah tradisi masyarakat Gorontalo untuk membangunkan sahur dengan menggunakan kentongan yang terbuat dari bambu.
Eduart mengatakan bahwa tradisi koko’o yang diselenggarakan oleh Brigade Toki Sahur Talumolo dan UNG pada bulan Ramadan 1445 hijriah saat ini, menjadi istimewa karena merupakan peringatan satu dekade Koko’o Gorontalo.
Menurut Rektor, 10 tahun atau satu dekade terakhir, Brigade Sahur Talumolo dalam Koko’o Gorontalo membudayakan dalam bentuk yang lebih menghibur.
“Malam hari ini, kita membuat rute yang terpanjang sebagai bentuk rasa syukur dan kegembiraan kita menyambut bulan suci Ramadan,” kata Eduart.
Ketuk sahur ini mengambil rute dari gerbang kampus UNG dan finish di Kelurahan Talumolo.
Harapan ke depan, kata Eduart, ini akan menjadi sebuah kegiatan budaya yang memberikan gambaran ciri khas masyarakat Gorontalo ketika menyambut dan bergembira ria menyongsong bulan suci Ramadan.
Cara membangunkan sahur di Gorontalo ada kemiripan dengan di negara Turki. Di Gorontalo, instrumen yang banyak digunakan adalah peralatan bambu, sedangkan di Turki tabuhan genderang.
Melansir Turknesia Edu Foundation (turknesia.com) di negara Turki, selama bulan suci Ramadan penabuh genderang turun ke jalan-jalan untuk membangunkan sahur.
Tradisi turun temurun ini sudah dijalankan selama berabad-abad dari generasi ke generasi. Biasanya, ayah, kakek, buyut, dari penabuh kemungkinan juga adalah seorang penabuh.
Para penabuh membawa genderang yang dibuat dengan cara tradisional. Mereka juga biasanya terlatih dalam musik dan puisi.
