Misi Nasional Riset Laut Dalam Melalui Panca Samudra Nusantara

Biota laut di perairan Sulawesi Utara. GAMBAR: BRIN/YOUTUBE

Darilaut – Peneliti Pusat Riset Laut Dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), A’an Johan Wahyudi, mengatakan, laut dalam sering hadir sebagai angka teknis: arus, suhu, salinitas, oksigen, karbon, dan koordinat.

Bahasa itu penting bagi ilmuwan, namun kurang dekat bagi publik. Karena itulah, muncul gagasan lima cara memandang laut dalam dengan bahasa yang lebih akrab, agar kedalaman samudra tidak lagi terasa asing bagi bangsa maritim, kata A’an mengutip artikel Brin.go.id dengan judul ”Panca Samudra Nusantara untuk Misi Nasional Riset Laut Dalam.”

Sekitar tiga perempat laut Indonesia adalah laut dalam. Namun, laut dalam sering dianggap jauh dari keseharian.

Padahal, menurut A’an, banyak keputusan di permukaan bertumpu pada proses yang terjadi di kedalaman. Pola musim ikan, kekuatan badai, stabilitas pelabuhan, hingga keselamatan rute tol laut dipengaruhi oleh arus, gelombang, oksigen, nutrien, dan karbon yang bergerak ribuan meter di bawah permukaan.

Kedalaman yang tak terlihat itu sesungguhnya bekerja senyap menopang kehidupan di atasnya.

Panca Samudra Nusantara

Samudra Adhikara adalah fondasi yang merangkum upaya membangun peta dasar laut dalam Indonesia, misalnya bentuk dasar laut, jenis sedimen, dan ekosistemnya. Tanpa fondasi ini, keputusan tentang lokasi pelabuhan, kabel bawah laut, atau kawasan konservasi mudah keliru, kata A’an. Melalui Adhikara akan mengingatkan bahwa setiap langkah di laut memerlukan pijakan pengetahuan yang kokoh.

Samudra Caksana adalah mata yang terus berjaga. Melalui pengamatan berkelanjutan terhadap variabel laut (suhu, arus, gelombang, nutrien, oksigen, dll), kita dapat membaca denyut laut; misalnya kapan ikan mendekat, kapan perairan pesisir berisiko kekurangan oksigen, atau kapan rute pelayaran perlu diubah.

Caksana menjembatani sains dengan keputusan harian nelayan, operator pelabuhan, dan pengelola tol laut.

Samudra Jiwana membuka jendela kehidupan tersembunyi. Menurut A’an mikroba dan organisme laut dalam menyimpan senyawa unik yang berpotensi menjadi antibiotik baru, enzim industri, hingga pangan fungsional. Jiwana menempatkan laut dalam sebagai laboratorium alami bagi masa depan kesehatan dan bioteknologi Indonesia.

Samudra Gati berbicara tentang dinamika dan kewaspadaan. Longsor bawah laut, gempa, dan tsunami berawal dari proses geologi yang harus dipahami agar sistem peringatan dini bekerja lebih cepat. Gati menghubungkan pengetahuan kedalaman dengan keselamatan jutaan penduduk pesisir.

Terakhir, Samudra Kala mengingatkan bahwa laut dalam adalah mesin iklim. Laut menyerap panas dan karbon bumi, memengaruhi siklus hujan dan kekuatan badai. Memahami Kala berarti membaca arah masa depan perubahan iklim Indonesia, kata A’an.

Lima sudut pandang ini bukan sekadar istilah. Ini lima misi nasional laut dalam (National Deep Sea Mission):

– Deep-Sea Baseline Indonesia melalui Samudra Adhikara,

– Deployment Indonesia Ocean Observing System (IOOS) and Time-Series Observations melalui Samudra Caksana,

– Deep Biosphere and Marine Genetic Resources melalui Samudra Jiwana,

– Ocean Hazards, Subduction, and Seafloor Processes melalui Samudra Gatidan

– Deep-Sea Carbon and Climate Engine melalui Samudra Kala.

Dengan kerangka tersebut, menurut A’an, laut dalam tidak lagi dipandang sebagai ruang gelap di peta, melainkan sebagai sistem yang dapat dipahami, dipantau, dan dikelola untuk kepentingan publik.

Exit mobile version