Misteri Emas “Dudangata” di Cagar Alam Panua

Aliran Sungai Botudulanga, di Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. FOTO: VERRIANTO MADJOWA/DARILAUT.ID

Darilaut – Kilau jingga kekuningan memantul dari dasar sungai yang jernih. Orang-orang menyelam ke dasar sungai, tempat warna kemilau itu bermunculan, namun tak ada yang dapat mengangkat mineral emas itu.

Dari dasar sungai, tempat cahaya kemilau memantul, para penambang mencoba berulang kali, bertahun-tahun. Hasilnya, nihil.

Kisah tentang penggalian dan pendulangan emas di Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, bukan hanya di Gunung Pani dan sekitarnya, seperti di Ilota Kiri, Ilota Kanan, Baginite dan lainnya.

Di lokasi yang bersinggungan dengan Cagar Alam Panua, ada bongkah emas berukuran besar.

Bongkahan itu, dalam bahasa Gorontalo berbentuk seperti “dudangata” atau cukuran kelapa.

Karena ukuran emas tersebut sangat besar, tak ada yang dapat memindahkan emas itu dari dasar sungai.

Emas berbentuk “dudangata” sudah lama menjadi cerita, sejalan dengan penambangan emas rakyat dan eksplorasi emas dari masa kolonial Belanda di Marisa.

Penggalian dan pendulangan emas di Pohuwato, dulunya dengan kode wilayah “Pagoeat” sudah berlangsung ratusan tahun lalu.

Perusahaan penambangan emas yang mendapat izin eksplorasi di Pagoeat, di masa pemerintahan Hindia Belanda, antara lain, Exploratie Syndicaat Pagoeat, Exploratie Maatschappij Kolehis, dan Exploratie en Mijnbouw Maatschappij Gorontalo.

Izin eksplorasi di Pagoeat, masa pemerintahan Hindia Belanda juga diberikan kepada H. Ch. Soeters, H. Kerbert, Erdmann & Sielcken, Ch. H. Ch. Byvanck dan B.S.E. Roskott.

Emas dudangata berada di aliran yang membentuk Sungai Botudulanga, yang berada di Desa Hulawa, Kecamatan Buntulia.

Aliran sungai ini bertemu dan menyatu dengan Sungai Taluduyunu – menuju ke muara dengan sebutan Sungai Marisa.

Emas dudangata berada di Langge, nama lokasi penggalian dan pendulangan emas. Lokasi ini ditandai cahaya berkilauan yang memantul di sungai.

Untuk ke tempat ini, dulunya, dapat ditempuh dengan berjalan kaki separuh hari dari Marisa dan Buntulia.

Kilau emas di dasar sungai yang terletak di Langge tersebut mendapat julukan “tilolio lo hulawa,” kata Subroto Pakaya, 56 tahun, penambang emas yang mewarisi keahlian menambang emas dari ayah dan kakeknya.

Emas dudangata konon berhubungan dengan raja emas yang juga berada di Pohuwato. Sebutan lain menuju tempat ini dalam bahasa Gorontalo disebut “tauwa lio” atau bila ke lokasi tersebut disebut “monao de tauwa lio”.

Di langge, kata Subroto, ”hilalahe hulawa” (emas kekuning-kuningan).

Subroto mengingat di masa kanak-kanak, pernah mencari ikan dengan cara memanah di aliran sungai itu.

Pada siang hari kilau emas atau cahaya memantul di Langge terlihat lebih jelas.

Meski ada pertanda cahaya kemilau sebagai tempat untuk mendapatkan emas, namun tak satu pun penambang yang mampu mengangkat emas dudangata.

Ada yang mencoba menyelam kemudian mencungkil bongkahan tersebut. Potongan emas kecil itu, bisa diperoleh penambang.

Hanya saja, seperti ada yang menahan penambang tersebut untuk muncul ke permukaan sungai.

Penambang tersebut bisa kembali ke permukaan sungai, setelah melepas potongan kecil yang diambil di dudangata.

Keberadaan emas dudangata tercium pula oleh PT Tropic – sebuah perusahaan penambangan emas yang mendapat konsesi untuk penyelidikan umum dan eksplorasi di Gorontalo, termasuk Gunung Pani dan sekitarnya.

Setelah Tropic, eksplorasi emas di kawasan Gunung Pani dan sekitarnya dilanjutkan oleh perusahaan penambangan emas, Yuta.

Ada pula cerita tentang emas dudangata yang coba diangkat menggunakan tali dengan bantuan helikopter.

Hasilnya sama, helikopter pun tak bisa mengangkat emas dudangata.

Lambat laun, akibat aktivitas penambangan emas di sekitar Langge, aliran sungai tak jernih lagi. Kilau emas dudangata di Langge sudah tak memberikan tanda dari dasar sungai.

“Cahaya (dari dasar sungai) ke atas tidak kelihatan karena pengaruh sedimentasi,” kata Didin Tontowa, 49 tahun, penambang emas di Marisa.

Hingga kini, awal November 2023, belum ada yang bisa mengangkat emas dudangata.

Mineral emas dudangata masih menjadi misteri yang belum terbuka rahasianya. (Verrianto Madjowa)

Exit mobile version