OceanX dan Peneliti Indonesia Temukan Deep-sea Coral Reefs

Eksplorasi laut dalam di perairan Indonesia. FOTO: BMKG/OceanX

Darilaut – Dengan menggunakan submersibles (kapal selam), OceanX dan tim peneliti Indonesia telah berhasil menyelam sedalam 4.800 meter dan berhasil menemukan deep-sea coral reefs atau terumbu karang laut dalam.

Hal ini disampaikan Science Program Director OceanX, Mattie Rodrigue, selama “Misi Indonesia 2024” atau Indonesia Mission 2024.

Rodrigue mengatakan, kapal OceanXplorer yang digunakan untuk ekspedisi ini merupakan kapal penelitian canggih milik OceanX. Kapal digunakan untuk melakukan riset yang sampai saat ini sudah menjamah sebanyak 15.000m2 data peta baru.

Capaian ini dapat terwujud karena kapal OceanXplorer memiliki fasilitas teknologi yang sangat mumpuni.

Menurut Rodrigue, selama Indonesia Mission 2024 ini berlangsung, tim peneliti sudah menemukan sebanyak 200 sampel di tahap pertama dan 300 sampel DNA di tahap kedua.

Capaian-capaian ini merupakan terobosan yang diharapkan dan juga salah satu alasan mengapa misi ini dilakukan, kata Rodrigue. Terkumpulnya riset-riset ini dapat menumbuhkan inovasi yang bisa mendorong pemanfaatan dan kelestarian laut Indonesia.

Organisasi nirlaba eksplorasi laut global OceanX bersama kementerian dan lembaga di Indonesia telah menyelesaikan tahap kedua dari misi eksplorasi “Indonesia Mission 2024” yang dimulai pada 8 Mei lalu dan melakukan perhentiannya di Padang, Sumatra Barat pada Minggu 23 Juni 2024.

Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kemenko Marves, Aniza Suspita, mengatakan, Kemenko Marves bersama BRIN Indonesia dan OceanX telah menyelesaikan tahap kedua dari misi eksplorasi ‘Indonesia Mission 2024.

“Sekarang melakukan perhentian di Padang. Setelah ini akan lanjut ke beberapa kota dan berakhir di Kota Bitung, Sulawesi Utara (Sulut) pada bulan Agustus 2024,” katanya.

Ekspedisi ini kerja sama Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenkomarves) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan organisasi nirlaba global sektor eksplorasi kelautan OceanX. Kegiatan ini juga melibatkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Pusat Hidro-Oseanografi Angkatan Laut (Pushidrosal), Kementerian Perhubungan, Kementerian Pertahanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Selain itu, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta peneliti dari universitas dan organisasi seperti Konservasi Indonesia.

Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset BRIN Nugroho Dwi Hananto, mengatakan, kolaborasi ini memberikan banyak keuntungan bagi para periset Indonesia.

Hal ini penting untuk memberikan pengalaman bagi periset Indonesia agar dapat melakukan riset dengan menggunakan peralatan mutakhir.

“Saat ini, BRIN mengelola 5 kapal riset, namun kapal-kapal tersebut sudah berusia antara 24 hingga 40 tahun. Sehingga peralatan riset di dalamnya juga sudah mulai menua dan beberapa tidak berfungsi,” kata Nugroho.

”Kita perlu memberikan alternatif agar para periset kita dapat mendapatkan akses yang memadai pada teknologi mutakhir.”

Nugroho menjelaskan bahwa BRIN juga sedang dalam proses pembelian kapal riset penjelajah samudera baru dengan kapasitas dan fasilitas riset yang sama dengan Ocean X, serta kapal riset penjelajah pesisir untuk melakukan riset di pesisir, di muara sungai, hingga ke paparan benua.

Keuntungan kedua dari kerja sama ini adalah para periset BRIN akan mendapatkan akses pada kerja sama kolaborasi internasional.

“Di sini kita bisa memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi para periset Indonesia untuk berkerjasama dengan para periset internasional,” kata Nugroho.

Keuntungan ketiga, dalam hal capacity building. Kerja sama ini akan memasukkan platform kolaborasi untuk melakukan riset keanekaragaman hayati dan geologi Maritim Indonesia.

Dalam platform ini, BRIN akan memberikan fasilitas berupa skema degree by research, invited professor, kunjungan ilmiah untuk riset, dan berbagai skema lainnya untuk mempersiapkan generasi muda Indonesia, kader-kader dan talent-talent riset muda Indonesia agar nantinya dapat memanfaatkan kapal baru dan berpartisipasi dalam riset laut dan samudera secara global.

Dari aspek geografis, kata Nugroho, kita memiliki keunggulan berupa wilayah dengan biodiversitas darat dan laut yang pertama di dunia, diharapkan dari Kerjasama ini akan membantu kita untuk memanfaatkan keunggulan ini secara maksimal dan menjadi pemimpin dalam riset laut dan samudera di dunia.

Riset ini dengan menggunakan kapal penelitian tercanggih di dunia OceanXplorer. Kapal riset tersebut dilengkapi dengan teknologi mutakhir untuk mensurvei beragam lingkungan laut, termasuk habitat laut dalam, dangkal, dan pesisir.

Ini termasuk dua kapal selam berawak sepanjang 1.000 meter, kendaraan yang dioperasikan jarak jauh (remote operated vehicle, ROV) sepanjang 6.000 meter, laboratorium penelitian mutakhir, kemampuan pengurutan DNA generasi berikutnya, kemampuan pemetaan akustik penuh, serta analisis konduktivitas, suhu dan kedalaman.

Exit mobile version