Panas Ekstrem Karena Perubahan Iklim Mempengaruhi Kesehatan Tenaga Kerja Global

Lautan mengalami kondisi gelombang panas. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Dampak perubahan iklim bersifat global dalam ruang lingkup yang belum pernah terjadi sebelumnya. Panas ekstrem karena dampak perubahan iklim tersebut mempengaruhi kesehatan 70% tenaga kerja global.

Perubahan iklim menyebabkan pergeseran pola cuaca merusak hasil panen. Selain itu, naiknya permukaan laut dan meningkatkan kemungkinan bencana banjir.

Tanpa tindakan drastis saat ini, beradaptasi dengan dampak tersebut di masa depan akan lebih sulit.

Kita berada pada saat yang menentukan untuk mengubah jalan kemanusiaan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Sekretaris Jenderal PBB menyerukan kerja sama internasional yang mendesak untuk mengatasi panas ekstrem, ancaman penting lainnya yang dibawa oleh perubahan iklim.

Perubahan iklim mengacu pada pergeseran suhu dan pola cuaca jangka panjang. Pergeseran seperti itu bisa jadi alami, karena perubahan aktivitas matahari atau letusan gunung berapi yang besar.

Namun sejak tahun 1800-an, aktivitas manusia telah menjadi pendorong utama perubahan iklim, terutama karena pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak dan gas.

Pembakaran bahan bakar fosil menghasilkan emisi gas rumah kaca yang bertindak seperti selimut yang melilit Bumi, memerangkap panas matahari dan menaikkan suhu.

Konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer bumi secara langsung terkait dengan suhu global rata-rata di Bumi.

Konsentrasi ini telah meningkat, dan suhu global rata-rata bersamanya, sejak masa Revolusi Industri.

Gas Rumah Kaca

Gas rumah kaca dan karbon dioksida (CO2) sebagian besar merupakan produk dari pembakaran bahan bakar fosil.

Laporan Gas Emisi baru oleh Program Lingkungan PBB (UNEP) menemukan bahwa telah ada kemajuan sejak Perjanjian Paris ditandatangani pada tahun 2015. Emisi gas rumah kaca pada tahun 2030, berdasarkan kebijakan yang ada, diproyeksikan meningkat sebesar 16 persen pada saat adopsi perjanjian.

Emisi gas rumah kaca yang diperkirakan pada tahun 2030 masih harus turun sebesar 28 persen untuk jalur 2°C Perjanjian Paris dan 42 persen untuk jalur 1,5°C.

Ada beberapa pilihan efektif untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan beradaptasi dengan perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.

Panel on Climate Change (IPCC) atau Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim mengusulkan mengadopsi “pembangunan tahan iklim” dengan menintegrasikan langkah-langkah untuk beradaptasi dengan perubahan iklim dengan tindakan untuk mengurangi atau menghindari emisi gas rumah kaca dengan cara yang memberikan manfaat yang lebih luas.

Misalnya, akses ke energi bersih dan teknologi dapat meningkatkan kesehatan, terutama bagi perempuan dan anak-anak.

Elektrifikasi rendah karbon, berjalan kaki, bersepeda, dan transportasi umum dapat meningkatkan kualitas udara, meningkatkan kesehatan, peluang kerja, dan memberikan kesetaraan.

Manfaat ekonomi bagi kesehatan masyarakat dari peningkatan kualitas udara saja kira-kira sama, atau bahkan mungkin lebih besar daripada biaya pengurangan atau menghindari emisi.

Pembangunan yang tahan iklim menjadi semakin menantang dengan setiap peningkatan pemanasan.

Oleh karena itu, pilihan yang dibuat dalam beberapa tahun ke depan akan memainkan peran penting dalam menentukan masa depan planet kita dan generasi yang akan datang.

Agar efektif, pilihan ini harus berakar pada beragam nilai, pandangan dunia, dan pengetahuan kita, termasuk pengetahuan ilmiah, Pengetahuan Pribumi, dan pengetahuan lokal.

Pendekatan ini akan memfasilitasi pembangunan yang tahan iklim dan memungkinkan solusi yang sesuai secara lokal dan dapat diterima secara sosial.

Exit mobile version