Jakarta – Pasar utama udang Indonesia masih di pantai timur Amerika, sedangkan pantai barat masih dikuasai pemasok dari India. Begitu pula dengan pasar Eropa yang belum dapat dioptimalkan untuk pemasaran produk perikanan Indonesia.
“Amerika marketnya in general, market leader-nya adalah india, kita nomor 2,” kata Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Rifky Effendi Hardijanto, dalam kegiatan Marine and Fisheries Business and Investment Forum dengan tema “Mendorong Ekspor Perikanan Indonesia Melalui Peningkatan Investasi Udang Nasional” di Jakarta, Selasa (11/12).
Forum ini dihadiri kementerian/lembaga terkait, pelaku usaha perikanan. Kemudian, jasa logistik, jasa keuangan & asosiasi perikanan.
Menurut Rifky, di Eropa lebih parah lagi, size marketnya kurang lebih sama dengan amerika yaitu 6 koma sekian miliar dollar setahun. Tapi Indonesia hanya nomor belasan, tidak masuk 10 besar. Di Eropa, dari market 6 koma sekian miliar dollar itu, kontribusi kita hanya sekitar USD84 juta.
Rifky mengatakan, secara umum kebutuhan udang dunia masih belum dapat dipenuhi pemasok-pemasok yang ada. Sehingga ini merupakan kesempatan Indonesia untuk mengoptimalkan pemasaran hasil penangkapan atau budidaya udang Indonesia.
Utamanya dengan mengoptimalkan penggunaan teknologi penangkapan atau budidaya dan pemberdayaan ahli-ahli perikanan Indonesia.
Untuk berbagi pengalaman link and match bisnis perikanan, dalam Marine and Fisheries Business and Investment Forum ini juga turut dihadirkan beberapa tokoh yang sukses menggeluti bisnis perikanan.
Salah satunya Tigor Cendarma, CEO PT Bogatama Marinusa (Bomar) yang telah 30 tahun menekuni bisnis udang dari hulu ke hilir. Ia sukses mengekspor produknya ke berbagai negara di Asia, Amerika, hingga Eropa.*
