Papan Informasi Wisata yang Buruk Dapat Merusak Citra Destinasi

Atol Pulo Cinta. FOTO: VERRIANTO MADJOWA/DARILAUT.ID

Darilaut – Di tengah pesatnya perkembangan industri pariwisata global, papan informasi wisata atau tourism signage kini tidak lagi sekadar penunjuk arah. Signage yang buruk dapat merusak citra destinasi.

Penelitian terbaru dosen Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Novriyanto Napu menunjukkan bahwa signage merupakan sistem komunikasi kompleks yang memadukan bahasa, simbol visual, dan teknologi digital dalam membentuk pengalaman wisatawan.

Temuan ini telah dipublikasikan dalam jurnal internasional tahun 2026.

Dalam studinya, Napu menjelaskan bahwa signage berfungsi sebagai antarmuka utama antara wisatawan dan destinasi. Signage bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun pemahaman lintas budaya.

Melalui pendekatan translanguaging, berbagai bahasa dan elemen semiotik—seperti ikon, tipografi, hingga QR code—digunakan secara fleksibel untuk menciptakan komunikasi yang lebih efektif dan inklusif.

Penelitian ini mengidentifikasi empat strategi utama dalam praktik penerjemahan signage, yakni terjemahan paralel, desain hibrida, transliterasi, serta terjemahan berbasis mesin.

Dari ke-4 strategi tersebut, pendekatan hibrida dan multimodal terbukti paling efektif karena mampu meningkatkan pemahaman sekaligus mempertahankan nilai autentik budaya lokal.

Sebaliknya, transliterasi dan penggunaan machine translation sering kali menimbulkan kesalahan yang berdampak pada penurunan kepercayaan wisatawan.

Kualitas terjemahan memiliki hubungan langsung dengan pengalaman pengunjung. Kesalahan dalam penerjemahan tidak hanya menyebabkan kebingungan, tetapi juga berpotensi menurunkan kepuasan, mengganggu navigasi (wayfinding), bahkan memengaruhi keputusan wisatawan untuk kembali berkunjung.

Dengan kata lain, signage yang buruk dapat merusak citra destinasi secara keseluruhan.

Perkembangan teknologi digital turut mengubah lanskap komunikasi wisata. Platform seperti aplikasi perjalanan, media sosial, dan sistem berbasis QR code memperluas akses informasi bagi wisatawan.

Namun, Napu mengingatkan bahwa ketergantungan pada teknologi, terutama terjemahan otomatis, harus diimbangi dengan pengawasan manusia. Tanpa kontrol kualitas, kesalahan makna dapat terjadi dan justru membahayakan, terutama dalam konteks informasi penting atau situasi darurat.

Dalam konteks Indonesia, khususnya daerah seperti Gorontalo, temuan ini membuka peluang besar untuk pengembangan pariwisata berbasis komunikasi multibahasa.

Penggunaan bahasa lokal, nasional, dan internasional secara terpadu dinilai mampu menciptakan pengalaman wisata yang lebih inklusif sekaligus memperkuat identitas budaya daerah.

Selain itu, penelitian ini juga menyoroti pentingnya kesiapan komunikasi dalam situasi krisis. Hingga kini, banyak destinasi wisata belum memiliki sistem signage multibahasa yang memadai untuk menyampaikan informasi darurat secara cepat dan akurat. Padahal, aspek ini sangat krusial dalam menjamin keselamatan wisatawan di tengah dinamika global yang tidak menentu.

Secara keseluruhan, studi ini menegaskan bahwa signage merupakan bagian dari infrastruktur sosio-teknis yang memengaruhi cara wisatawan memahami, merasakan, dan mempercayai suatu destinasi.

Dengan penerapan strategi translanguaging yang tepat, dukungan teknologi yang terkelola, serta regulasi yang kuat, papan wisata dapat menjadi alat strategis dalam meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia di kancah global.

Exit mobile version