Darilaut - Laporan terbaru PBB menyebutkan nilai jurnalisme dalam situasi bencana dan darurat sangat besar. Mulai dari COVID-19 dan hak asasi manusia hingga aksi iklim dan penanganan gempa bumi, kinerja jurnalis terbukti menyelamatkan nyawa sekaligus menjadi penawar bagi berita palsu yang berbahaya Pers yang bebas sangat penting untuk menyelamatkan nyawa, memitigasi dampak bencana kemanusiaan, serta memperkuat kesiapsiagaan bencana dan upaya pengurangan risiko lainnya. Penelitian di 152 negara mengaitkan kebebasan pers yang lebih besar dengan risiko konflik, penindasan, dan pelanggaran hak asasi manusia yang lebih rendah. Jurnalisme tepercaya berperan sebagai sumber penting untuk menangkal disinformasi yang keliru dan berbahaya. Melansir UN News, sebuah artikel di New York Times mengenai bencana berhasil mendatangkan tambahan bantuan resmi senilai 500.000 dolar AS. Ini hanyalah salah satu temuan mengenai peran krusial pers yang bebas dalam menyelamatkan nyawa, sebagaimana diungkapkan dalam laporan baru PBB yang dirilis pada hari Selasa. Hal ini disampaikan dalam laporan terbaru Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) yang berjudul The value of journalism: Global evidence on why media matters to economies, national security and crises (Nilai jurnalisme: Bukti global mengapa media penting bagi perekonomian, keamanan nasional, dan situasi krisis). Temuan utama menyoroti bahwa selain menangkal disinformasi, media tepercaya memperkuat akuntabilitas pemerintah, membantu masyarakat terdampak dalam mengakses bantuan, serta mendorong pemerintah dan pejabat daerah untuk mengambil tindakan. Peliputan yang berkualitas juga menghasilkan respons yang lebih efisien dan luas, mulai dari pemenuhan kebutuhan darurat hingga penanganan bencana itu sendiri. Menurut UNESCO—lembaga yang mendukung literasi media di seluruh dunia—peliputan yang kritis juga berfungsi sebagai pengawas untuk menjaga integritas sektor bantuan, yang pada akhirnya mendorong reformasi dan respons yang lebih efektif. Laporan tersebut juga menyatakan bahwa jurnalisme lingkungan yang orisinal dapat mendorong perlindungan yang lebih baik terhadap ekosistem alami. Sebagai contoh, pemberitaan sebuah majalah daring mengenai pembuangan air limbah dari tempat pembuangan akhir di Thailand memicu intervensi pihak berwenang, sementara investigasi terhadap penambangan pasir ilegal di Uganda berujung pada pemberlakuan larangan berskala nasional. Berikut adalah contoh-contoh lain dari laporan tersebut: • Di Burkina Faso, program radio mengenai risiko malaria, pneumonia, dan diare pada bayi terbukti meningkatkan secara drastis tingkat kunjungan pengasuh membawa anak ke pusat layanan kesehatan; hal ini menurunkan angka kematian anak di bawah usia lima tahun sebesar rata-rata 7,15 persen per tahun dan menyelamatkan nyawa sekitar 2.967 anak. • Kampanye yang dilakukan oleh jurnalis Los Angeles Times menghasilkan peraturan bangunan baru yang membuat kota terbesar di California tersebut lebih tahan gempa. • Sebuah studi mengenai peran radio pascagempa besar menemukan bahwa radio menghubungkan keluarga dengan kerabat yang hilang, mendorong anak-anak untuk kembali bersekolah, serta membantu menyebarluaskan informasi penting terkait keselamatan, kebersihan, air minum bersih, dan tempat penampungan guna mencegah wabah penyakit mematikan. • Evaluasi terhadap konten radio di Nigeria yang dirancang untuk mengatasi misinformasi COVID-19 dan keraguan terhadap vaksin menunjukkan bahwa program-program tersebut membantu pendengar setia mengenali dan menyanggah narasi keliru. Melawan Berita Palsu (Fake News) Narasi keliru, rumor, dan disinformasi memperparah krisis serta melemahkan kemampuan masyarakat untuk bersiap, merespons, dan bangkit kembali setelah bencana, bahkan menghalangi sampainya bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Menurut laporan tersebut, pemberitaan yang keliru juga dapat memperburuk konflik dan memicu kekerasan terhadap pekerja kemanusiaan. Disinformasi telah menimbulkan dampak buruk dan kerugian besar selama krisis kesehatan seperti COVID-19, dalam situasi yang disebut oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai "infodemi". Sebuah studi memperkirakan bahwa disinformasi menyebabkan hampir 2,3 juta kasus penyakit dan 66.000 kasus rawat inap pada tahun 2021 di Amerika Serikat saja; hal ini mengakibatkan tambahan biaya perawatan rumah sakit sebesar US$2 miliar dan 45.000 kematian yang sebenarnya dapat dicegah. Di saat yang sama, jurnalisme tepercaya berperan sebagai sumber informasi krusial untuk menangkal narasi-narasi tersebut dan menyampaikan saran dari para ahli. Sorotan Terhadap Bantuan Menurut laporan tersebut, liputan berita juga dapat mendorong sumbangan amal yang signifikan dari masyarakat. Liputan terkenal jurnalis Inggris Michael Buerk dari Ethiopia pada tahun 1984 untuk BBC dinilai berperan dalam menggalang dana lebih dari $200 juta untuk bantuan penanggulangan kelaparan. Foto karya jurnalis foto asal Turki, Nilüfer Demir, yang menampilkan seorang anak yang tenggelam bernama Alan Kurdi, memicu perhatian dunia terhadap konflik Suriah pada tahun 2015 dan menyebabkan lonjakan donasi, termasuk peningkatan pendanaan hingga 50 kali lipat bagi sejumlah organisasi non-pemerintah (LSM). Jurnalisme juga dapat mendorong reformasi besar di dalam sektor bantuan itu sendiri, sebagaimana terlihat dalam skandal #AidToo; saat itu, para jurnalis mengungkap adanya penyalahgunaan kekuasaan di Haiti serta budaya impunitas yang melibatkan LSM Oxfam dan Save the Children.