Darilaut – Limbah makanan turut memperparah pemanasan global, sedikit demi sedikit—bahkan dari sisa potongan roti lapis yang tidak habis dimakan.
Faktanya, membuang sisa makan siang atau selada yang layu hanya menambah tumpukan makanan buangan yang membusuk di tempat pembuangan akhir (TPA), yang kemudian melepaskan metana—gas rumah kaca yang sangat kuat dampaknya.
Hal ini juga menyumbang sekitar delapan hingga 10 persen dari emisi global.
Angka ini mencakup hasil panen yang rusak—yaitu makanan yang hilang setelah dipanen bahkan sebelum sempat sampai ke toko.
Menurut Program Lingkungan PBB (UNEP), setiap hari terdapat lebih dari satu miliar porsi makanan yang tidak dikonsumsi, baik akibat produksi pangan yang berlebihan, pembusukan, maupun perencanaan makan yang kurang baik.
“Memanfaatkan pangan yang telah kita produksi secara lebih efisien dapat mengurangi tekanan terhadap lahan dan hutan, sekaligus membantu memenuhi kebutuhan pangan lebih banyak orang,” ujar Michael Muratha, Manajer Proyek dan Ahli Pengetahuan di UNEP.
Selain itu, keberadaan hutan yang sehat juga mendukung produksi pangan melalui berbagai cara, termasuk dengan menjaga kualitas tanah dan mengatur curah hujan.
Masalah ini menjadi sorotan pada Hari Kesadaran Internasional tentang Kehilangan dan Limbah Pangan yang diperingati tanggal 29 September—sebuah inisiatif yang diselenggarakan oleh UNEP dan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO).



