Darilaut – Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FIPA) IPB University, Dr I Putu Santikayasa, mengatakan dalam melaksanakan kaidah pertambangan yang baik, diperlukan kajian hidrologi.
Kajian hidrologi merupakan kegiatan penelitian untuk mengetahui pergerakan, distribusi, kuantitas, dan kualitas air permukaan.
Hal ini disampaikan Santikayasa dalam webinar dengan topik “Pengelolaan Air Asam Tambang dengan Pemodelan Hidrologi” Rabu (15/09). Webinar ini diselenggarakan IPB Training berkolaborasi dengan Dunia Tambang, untuk meningkatkan kapasitas ilmu di bidang tambang dan lingkungan.
Kajian hidrologi dan hidrogeologi mencakup analisis daerah aliran sungai, wilayah cekungan air tanah, serta penyelidikan hidrologi dan hidrogeologi.
Model hidrologi mungkin hanya memberikan gambaran sebagian dari sistem sesungguhnya atau bahkan dapat menyimpang dari keadaan sebenarnya.
Air Asam Tambang menjadi isu lingkungan hingga kini karena mengakibatkan penurunan kualitas air. Selain itu, air asam tambang berpotensi mempengaruhi aktivitas tambang. Sementara itu, pemodelan hidrologi memiliki banyak klasifikasi dan bergantung pada tujuan pemodelan.
Menurut Santikayasa, pemodelan hidrologi bertujuan untuk merepresentasikan proses-proses dan keterkaitan antar parameter hidrologi.
Pakar Pemodelan Hidrologi ini menjelaskan, air asam tambang merupakan air yang bersifat asam akibat oksidasi mineral sulfida pada aktivitas pertambangan.
Santikayasa mengatakan penanggulangan air asam tambang secara aktif menggunakan bahan kimia. Sementara, untuk menanggulangi air asam tambang secara pasif, sistem yang digunakan berupa wetland dan openlimestone channel.
Salah satu model yang umum digunakan di Indonesia adalah Soil and Water Assessment Tool (SWAT). Model hidrologi ini digunakan untuk memodelkan perilaku hidrologi.
Model ini menganalisis respon permukaan terhadap curah hujan menggunakan pendekatan Hydrological Response Unit.
“Secara spasial, model hidrologi SWAT direferensikan ke Daerah Aliran Sungai (DAS) atau sub-DAS tertentu. Unit spasial terkecil umumnya memiliki jenis tanah, penggunaan lahan, dan kemiringan yang seragam,” kata Santikayasa mengutip dari Ipb.ac.id.
