Darilaut – Penanaman bibit mangrove dengan sistem rumpun berjarak sedang dikembangkan di pesisir Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo.
Ketua Kelompok Studi Lingkungan (KSL) Paddakauang Umar Pasandre, mengatakan model rumpun berjarak berbeda dengan pola penanaman mangrove biasanya dalam satu hamparan.
Dengan model rumpun berjarak, menurut Umar, ada ruang yang tidak ditanami mangrove. Ruang yang tidak ditanami mangrove ini, akan menjadi tempat keluar atau masuk perahu nelayan.
Biasanya, penanaman mangrove dalam satu hamparan membuat akses perahu nelayan yang keluar dan masuk menjadi terbatas.
“Sistem penanaman mangrove rumpun berjarak tidak mengganggu akses perahu nelayan,” kata Umar, Senin (16/8).
Selain itu, menurut Umar, model rumpun berjarak akan memberikan ruang untuk pengembangan lainnya seperti budidaya ikan dan ekowisata.
Sebagai motivator dan pendamping dalam penanaman mangrove, Umar, sudah dua tahun berjalan mengembangkan sistem penanaman rumpun berjarak.
Penanaman ini sudah dilakukan di Torosiaje kecamatan Popayato dan Molosipat di Kecamatan Popayato Barat, Pohuwato.
Model rumpun berjarak ini sangat memperhatikan mangrove yang sesuai dengan kondisi lokasi penanaman.
Bila di lokasi itu pernah tumbuh atau masih ada pohon mangrove jenis Avicennia, maka bibit mangrove ini yang ditanam. Begitu juga dengan bibit Rhizophora, disesuaikan dengan kondisi lokasi yang ditanami.
Seperti di Molosipat, penanaman mangrove di lokasi ini dengan sistem rumpun berjarak. Penanaman mangrove yang difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut – Kementerian Kelautan Perikanan berada di perbatasan Provinsi Gorontalo dan Sulawesi Tengah, pesisir Teluk Tomini.
Kelompok yang melakukan penanaman di lokasi ini Tani Belantara Abadi. Penanaman bibit mangrove mencakup areal seluas 11 hektare dengan jumlah bibit sebanyak 49.500.
Jenis mangrove yang ditanam Rhizophora stylosa 33 ribu bibit dan Avicennia marina 16.500 bibit.
