Darilaut – Pendekatan ilmiah terpadu melalui pengembangan Indeks Daya Dukung Ekologi (IDDE) sangat penting untuk menjaga keberlanjutan terumbu karang.
Hasil penerapan IDDE menunjukkan bahwa integrasi data oseanografi dan tekanan antropogenik mampu memberikan gambaran kapasitas ekosistem secara lebih realistis, menurut Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi (PRE) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Taslim Arifin.
Taslim mengatakan konsep IDDE berbasis ekosistem yang mengintegrasikan berbagai parameter penting, seperti faktor geofisik, oseanografi, serta tekanan aktivitas manusia.
Dalam orasi ilmiah pada acara Pengukuhan Profesor Riset BRIN, pada Selasa (31/3), Taslim menjelaskan bahwa pendekatan spasial dalam IDDE menunjukkan adanya variasi daya dukung di setiap wilayah, sehingga pengelolaan tidak bisa disamaratakan.
Setiap kawasan memerlukan strategi yang disesuaikan dengan karakteristik ekologis dan tekanan yang dihadapi, kata Taslim.
Untuk memperkuat analisis, model sistem dinamik juga digunakan guna menyimulasikan berbagai skenario kebijakan dan memproyeksikan kondisi ekosistem di masa depan.
Pendekatan ini dinilai penting agar kebijakan tidak hanya berbasis kondisi saat ini, tetapi juga mempertimbangkan arah perubahan dan ketahanan ekosistem.
Penerapan IDDE telah dilakukan di sejumlah wilayah perairan Indonesia, seperti Teluk Saleh, Kepulauan Spermonde, Wakatobi, Teluk Jakarta, hingga wilayah Nusa Penida.
“IDDE menjadi instrumen ilmiah yang menjembatani sains dan kebijakan, sekaligus mendukung pengelolaan terumbu karang yang adaptif dan berkelanjutan,” ujar Taslim seperti dikutip dari Brin.go.id.
Taslim mengusulkan pembentukan kerangka nasional perlindungan terumbu karang berbasis daya dukung ekologi.
Kerangka ini diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah dalam penyusunan kebijakan lintas sektor, dengan mempertimbangkan keterhubungan ekologi, oseanografi, dan sosial-ekonomi antarwilayah.
Namun implementasi IDDE masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan data, kesenjangan kapasitas sumber daya manusia, serta kompleksitas sistem sosial-ekologi.
Meski begitu, pengembangan indeks ini dinilai sebagai langkah penting dalam memperkuat tata kelola ruang laut berbasis ekosistem.
IDDE juga diharapkan dapat menjadi acuan dalam menetapkan batas pemanfaatan yang berkelanjutan, sekaligus menjaga integritas ekosistem laut di tengah tekanan perubahan global.
“Ke depan, integrasi sains, kebijakan, dan praktik lokal menjadi kunci dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan degradasi habitat,” kata Taslim.
Taslim menekankan pemahaman terhadap ekosistem pesisir harus bergeser dari perspektif statis menuju sistem yang dinamis, kompleks, dan penuh ketidakpastian, sehingga membutuhkan pendekatan pengelolaan yang adaptif dan berbasis ilmu pengetahuan.
Ekosistem terumbu karang dunia mengalami tekanan berat sejak pertengahan abad ke-20. Hal ini akibat interaksi kompleks antara perubahan iklim dan aktivitas manusia.
Tutupan karang hidup secara global dilaporkan telah menurun hingga sekitar 50 persen. Degradasi ini tidak hanya dipicu oleh satu faktor, tetapi merupakan akumulasi dari tekanan antropogenik, variabilitas iklim global, serta perubahan kondisi oseanografi.
