Peneliti Temukan Populasi Baru Paus Biru di Samudera Hindia Bagian Barat

Seekor paus biru di lepas pantai Laut Oman. Peneliti menemukan populasi baru paus biru (Blue Whales) di di Samudra Hindia bagian barat. FOTO: ROBERT BALDWIN/Environment Society of Oman

Darilaut – Tim peneliti internasional telah menemukan populasi baru paus biru (Blue Whales) di Samudera Hindia bagian barat.

Paus biru tercatat sebagai hewan terbesar yang hidup di planet kita saat ini. Mereka ditemukan di hampir semua samudera di seluruh dunia.

Untuk mengetahui keberadaan paus biru melalui lagu yang dinyanyikan. Lagu atau nyanyian ini bernada sangat rendah dan mudah dikenali.

Bagi para peneliti, setiap populasi memiliki lagu keunikan sendiri-sendiri. Seperti dilansir Phys.org Senin (21/12), dalam tulisan yang baru-baru ini diterbitkan di Jurnal Endangered Species Research, para peneliti menjelaskan bahwa nyanyian paus biru sebagai populasi baru ini terdengar dari pantai Laut Arab Oman hingga Kepulauan Chagos di Samudera Hindia tengah dan selatan Madagaskar di barat daya Lautan Hindia.

Adalah Direktur Program Cetacean Dana Konservasi Perairan Afrika dan Ilmuwan Tamu di Akuarium New England Dr Salvatore Cerchio, yang memimpin analisis rekaman paus biru ini dari tiga lokasi di Samudera Hindia bagian barat.

Dr Cerchio pertama kali merekam lagu baru tersebut pada tahun 2017. Penelitian saat ini mengambil fokus pada paus Omura di Selat Mozambik lepas pantai Madagaskar. Cerchio mengenali rekaman suara tersebut sebagai lagu paus biru yang belum pernah dideskripsikan sebelumnya.

Selain itu, Dr Cerchio juga bekerja dengan tim ilmuwan yang mengumpulkan rekaman akustik di lepas pantai Oman di Laut Arabian. Ini adalah bagian dari upaya penelitian yang difokuskan pada paus bungkuk (humpback whale) di Laut Arabian yang sangat terancam punah.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi berkelanjutan antara Environment Society of Oman, Five Oceans Environmental Services LLC, Otoritas Lingkungan Oman dan Kementerian Pertanian Oman.

Saat menganalisis data akustik yang diperoleh dari lepas pantai Oman, tim peneliti mengenali lagu tersebut tidak memiliki kesamaan.

Rekaman akustik paus biru baru ini kemudian direkam di luar laut Oman dan menjadi jelas bagi para peneliti bahwa mereka telah menemukan populasi paus biru yang sebelumnya tidak dikenal di Samudera Hindia bagian barat.

“Sungguh luar biasa,” kata Cerchio seperti dikutip dari Phys.org,”menemukan nyanyian ikan paus dalam data Anda yang benar-benar unik, belum pernah dilaporkan sebelumnya, dan mengenalinya sebagai paus biru.”

Nyanyian paus biru telah dipelajari secara luas secara global, dan beberapa populasi paus biru telah diidentifikasi berdasarkan lagu mereka yang berbeda di seluruh Samudera Hindia.

Hingga tahun 2017, tidak diketahui populasi paus biru di Samudera Hindia bagian barat.

“Dengan semua karya tentang nyanyian paus biru dan untuk berpikir bahwa ada populasi di luar sana yang tidak diketahui siapa pun hingga tahun 2017, yah, itu membuat Anda terpesona,” kata Cerchio.

Pada 2018, tim tersebut melaporkan temuan mereka ke Komite Ilmiah International Whaling Commission (IWC, Komisi Perburuan Paus Internasional), yang sedang mengevaluasi status populasi paus biru di Samudera Hindia.

Temuan ini memunculkan sedikit kegembiraan pada pertemuan tersebut, dan menimbulkan banyak pertanyaan baru tentang pergerakan dan struktur populasi paus biru di Samudera Hindia.

Emmanuelle Leroy dan Tracey Rogers dari Universitas New South Wales, di Sydney, Australia, juga melakukan penelitian akustik pada paus biru di Samudera Hindia. Setelah membaca laporan IWC tentang lagu paus biru populasi baru tersebut, Leroy menyadari bahwa mereka juga telah merekam lagu yang sama di Kepulauan Chagos di Samudera Hindia tengah.

“Tak lama setelah kami membuat laporan pertama di IWC,” kata Cerchio, “Saya menerima email dari Emmanuelle yang mengatakan, ‘Hei Sal, saya pikir lagu Oman itu dari Chagos!'”

Selanjutnya, tim kolaboratif berkembang untuk menganalisis data dari ketiga situs yang menunjukkan bahwa populasi ini mungkin menghabiskan sebagian besar waktunya di Samudera Hindia barat laut, di Laut Arabian dan di sebelah barat Chagos.

Telah lama diketahui bahwa populasi unik paus biru berada di Samudera Hindia Utara, tetapi diasumsikan bahwa paus di Laut Arabian termasuk dalam populasi yang sama, yang telah dipelajari sebelumnya di Sri Lanka dan tersebar di Samudera Hindia bagian selatan. Namun, rekaman akustik dari lagu-lagu tersebut berbeda.

“Sebelum upaya perekaman kami di luar Oman, tidak ada data akustik dari Laut Arabian, jadi identitas populasi paus biru itu awalnya hanya tebakan,” kata Andrew Willson dari Five Oceans Environmental Services LLC.

Menurut Andrew, pekerjaan yang dilakukan tim ini menunjukkan bahwa masih banyak yang harus dipelajari tentang paus biru. Dan ini merupakan persyaratan mendesak mengingat berbagai ancaman terhadap paus besar terkait dengan perluasan industri maritim di wilayah tersebut.

Paus biru diburu hingga hampir punah di seluruh dunia selama abad ke-20. Populasinya mulai pulih dengan sangat lambat selama beberapa dekade terakhir setelah dilakukan moratorium global perburuan paus komersial.

Laut Arabian pernah menjadi sasaran penangkapan paus ilegal Soviet pada tahun 1960-an. Selain itu, terdapat aktivitas yang hampir membasmi populasi kecil paus bungkuk, paus biru, paus sperma, dan paus Bryde di kawasan tersebut.

Beberapa peneliti menganggap paus biru Samudera Hindia utara dan paus bungkuk Laut Arabian terdiri dari subspesies yang unik, tidak hanya populasi, menjadikannya sangat istimewa dan penting bagi keanekaragaman hayati.

“Populasi ini tampaknya unik di antara paus balin, dalam kasus paus bungkuk Laut Arabian karena mereka menetap sepanjang tahun di kawasan itu tanpa migrasi jarak jauh yang sama dari populasi lain,” kata Willson.

Direktur Eksekutif Masyarakat Lingkungan Oman Suaad Al Harthi, mengatakan, selama 20 tahun kami telah memfokuskan pekerjaan pada paus bungkuk Laut Arabian yang sangat terancam punah, yang menurut kami hanya tersisa sekitar 100 di lepas pantai Oman.

“Sekarang, kami baru saja mulai belajar lebih banyak tentang populasi paus biru lain yang sama-sama istimewa, dan kemungkinan besar sama-sama terancam punah,” katanya.

Sumber: Phys.org

Exit mobile version