Darilaut – Keterlibatan masyarakat sangat penting dalam menjaga lintasan ikan. Sehingga, kita perlu riset-riset sosial untuk meningkatkan persepsi masyarakat pentingnya lintasan ikan ini.
implementasinya, lintasan ikan tidak hanya memberikan pengaruh dari aspek ekologis tetapi juga sosial, terutama pada komunitas masyarakat yang bergantung pada sumber daya perikanan.
Karena itu, diperlukan pemahaman bagi para peneliti di bidang konservasi ikan terkait penggunaan metode ilmiah dalam penelitian sosial.
Ikan migrasi sering mengalami kesulitan melintasi bangunan melintang sungai, seperti bendungan atau penghalang lainnya.
Untuk itu, Fish passage atau lintasan ikan dirancang untuk memfasilitasi migrasi ikan.
Kepala Pusat Riset Konservasi Sumber Daya Laut dan Perairan Darat Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Wibowo, mengatakan, setiap penelitian ilmu alam pasti melibatkan ilmu sosial.
”Dengan ilmu sosial, kita akan mengetahui bagaimana persepsi masyarakat tentang konservasi ikan. Tidak hanya kepada masyarakat lokal, tetapi juga berbagai pemangku kepentingan,” kata Arif pada pelatihan bertajuk Social Research Training for Fish Conservation Scientists, di Jakarta, Senin (24/2).
“Sehingga, persepsi social science bisa menjadi salah satu faktor pengambilan keputusan dalam bidang konservasi ikan.”
Senior Research Fellow di Environment and Livelihoods, Gulbali Institute, Charles Sturt University (CSU), Joanne Millar, menjelaskan pelatihan ini bertujuan memberikan pengetahuan dan keterampilan peneliti BRIN di bidang konservasi ikan dalam memahami masyarakat ketika mereka melakukan penelitian.
“Apakah mereka melakukan penelitian sosial atau tidak, sangat penting bagi mereka untuk memahami masyarakat setempat dan bekerja dengan mereka,” ujarnya.
Kemudian, kata Joanne, jika mereka akan melakukan penelitian sosial, bagaimana mereka melakukannya secara etis dan merancang pertanyaan yang baik.
Selanjutnya, bagaimana para peneliti menganalisis data, menulis hasilnya, dan menyajikannya kepada pihak yang berwenang atau kepada masyarakat.
Joanne membagikan pengalamannya di negara-negara Asia, salah satunya proyek merancang jalur ikan di Laos.
Setelah jalur ikan dibangun, masyarakat setempat harus mengelolanya karena para peneliti telah selesai dengan tugasnya.
“Masyarakat setempat membentuk komite untuk memastikan orang-orang tidak akan menangkap ikan di sana secara ilegal, sehingga mereka melakukan patroli,” ujarnya.
Secara bertahap, masyarakat memahami tentang jalur ikan, walaupun masih sering terjadi penangkapan ikan secara ilegal, kata Joanne.
Pelatihan diikuti BRIN, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta NGO ini akan berlangsung selama lima hari.
Joanne menjelaskan, peserta juga akan berkunjung ke Pasar Ikan Modern, Muara Angke, dan mewawancarai para pedagang dan konsumen.
“Harapan saya, para peneliti memiliki keterampilan dan pengetahuan terkait penelitian sosial, serta termotivasi dan antusias untuk melakukannya,” kata Joanne.
