Penyakit Menular Melalui Vektor Berpotensi Menjadi Pandemi Berikutnya

Gigitan nyamuk. FOTO: KEMKES.GO.ID

Darilaut – Penyakit yang menular melalui vektor (vector-borne diseases) tidak hanya menjadi ancaman serius bagi kesehatan global, bahkan dinilai berpotensi menjadi pandemi berikutnya.

Penyakit ini telah menyumbang lebih dari 17% dari seluruh penyakit menular dan menyebabkan lebih dari 700.000 kematian setiap tahun.

Meningkatnya urbanisasi tak terencana, mobilitas manusia yang tinggi, serta perubahan iklim menjadi faktor pendorong utama penyebaran vektor penyakit. Terutama di kawasan tropis dan subtropis.

Selain itu, resistensi vektor terhadap insektisida dan patogen terhadap obat turut menyulitkan pengendalian penyakit tersebut.

Untuk membahas masalah tersebut, Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman (PRBME), Organisasi Riset Kesehatan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyelenggarakan webinar nasional bertajuk “Update Penyakit Tular Vektor; Berpotensi Menjadi Pandemi Berikutnya” pada Rabu (25/6).

Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, NLP Indi Dharmayanti, mengatakan, perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, perdagangan global, serta lemahnya infrastruktur kesehatan menjadi pemicu meningkatnya risiko penularan.

“Faktor-faktor tersebut menciptakan peningkatan insiden dan potensi penyebaran pandemi penyakit tular vektor,” kata Indi.

Oleh karena itu, menurut Indi, riset berkelanjutan sangat penting untuk memahami perkembangan terkini penyakit ini serta potensi ancamannya di masa depan.

Kepala Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman BRIN, Elisabeth Farah Novita Coutrier, menjelaskan upaya pencegahan dan pengendalian yang berkelanjutan dan pentingnya keterlibatan aktif masyarakat dalam program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) serta edukasi berkelanjutan.

“Keberhasilan pengendalian penyakit tular vektor sangat bergantung pada sinergi lintas sektor dan kesadaran masyarakat,” ujarnya.

Menurut Farah, perubahan iklim telah menggeser pola penyebaran vektor ke wilayah-wilayah yang sebelumnya tidak terdampak.

Mobilitas penduduk, perubahan lingkungan akibat urbanisasi, serta pemanasan global memperluas distribusi nyamuk pembawa penyakit. Kondisi ini menuntut akses informasi terkini serta strategi pengendalian yang adaptif dan partisipatif, kata Farah.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Triwibowo Ambar Garjito, mengatakan, arbovirus seperti dengue, chikungunya, zika, dan yellow fever menjadi perhatian global.

WHO bahkan telah menerbitkan Global Arbovirus Initiative yang menyebutkan potensi besar penyakit ini menjadi pandemi global berikutnya.

“Nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus menjadi vektor utama. Keberadaan dan penyebarannya yang meluas menjadikan arbovirus sebagai ancaman serius,” kata Triwibowo.

Penguatan riset terhadap spesies nyamuk lokal di Indonesia sangat penting. Menurut Triwibowo, Indonesia memiliki lebih dari 900 spesies Aedes.

”Kita perlu surveilans dan riset intensif untuk menentukan strategi intervensi yang tepat,” ujarnya.

Sementara itu, Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman, Ismail Ekoprayitno Rozi, menjelaskan kajian tentang pengendalian vektor nyamuk di daerah endemik malaria.

Menurut Ismail, malaria masih menjadi penyakit menular dengan jumlah kematian tertinggi di dunia. Di Indonesia kasus malaria tertinggi, terutama di Tanah Papua dan Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Meskipun ada kemajuan dalam penemuan dan pengobatan kasus, masih banyak infeksi malaria yang tidak terdeteksi atau tidak bergejala.

“Sebanyak 93% kasus malaria di Indonesia pada 2024 tercatat berasal dari Tanah Papua,” ujarnya.

“Surveilans berbasis data dan pendekatan berbasis bukti menjadi dasar bagi kebijakan pengendalian yang efektif dan kontekstual.”

BRIN berkomitmen dalam mendukung riset dan inovasi di bidang pengendalian penyakit tular vektor, serta mendorong kolaborasi lintas sektor guna memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat.

Exit mobile version