Penguatan riset terhadap spesies nyamuk lokal di Indonesia sangat penting. Menurut Triwibowo, Indonesia memiliki lebih dari 900 spesies Aedes.
”Kita perlu surveilans dan riset intensif untuk menentukan strategi intervensi yang tepat,” ujarnya.
Sementara itu, Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman, Ismail Ekoprayitno Rozi, menjelaskan kajian tentang pengendalian vektor nyamuk di daerah endemik malaria.
Menurut Ismail, malaria masih menjadi penyakit menular dengan jumlah kematian tertinggi di dunia. Di Indonesia kasus malaria tertinggi, terutama di Tanah Papua dan Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Meskipun ada kemajuan dalam penemuan dan pengobatan kasus, masih banyak infeksi malaria yang tidak terdeteksi atau tidak bergejala.
“Sebanyak 93% kasus malaria di Indonesia pada 2024 tercatat berasal dari Tanah Papua,” ujarnya.
“Surveilans berbasis data dan pendekatan berbasis bukti menjadi dasar bagi kebijakan pengendalian yang efektif dan kontekstual.”
BRIN berkomitmen dalam mendukung riset dan inovasi di bidang pengendalian penyakit tular vektor, serta mendorong kolaborasi lintas sektor guna memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat.




