Darilaut – Di Kedalaman laut yang tak terlihat sesungguhnya bekerja senyap. Ini yang menopang kehidupan di atasnya.
Indonesia memiliki sekitar tiga perempat laut laut dalam. Namun, laut dalam sering dianggap jauh dari keseharian.
Peneliti Pusat Riset Laut Dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), A’an Johan Wahyudi, mengatakan, banyak keputusan di permukaan bertumpu pada proses yang terjadi di kedalaman.
Seperti pola musim ikan, kekuatan badai, stabilitas pelabuhan, hingga keselamatan rute tol laut dipengaruhi oleh arus, gelombang, oksigen, nutrien, dan karbon yang bergerak ribuan meter di bawah permukaan.
Karena itu, Panca Samudra Nusantara tidak berhenti pada urusan dalam negeri. Indonesia berada di jantung sirkulasi Indo-Pasifik, jalur air yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Hindia, memengaruhi iklim dari Australia hingga Asia Timur.
Posisi ini memberi peluang bagi Indonesia untuk mengambil peran lebih besar sebagai Scientific Orchestrator of the Indo-Pacific Deep Ocean, kata A’an.
Peran itu setidaknya memiliki tiga wajah. Pertama, menurut A’an, sebagai agenda setter, yaitu bahwa negara ikut menentukan pertanyaan riset apa yang penting bagi kawasan.
Misalnya, bagaimana perubahan iklim memengaruhi perikanan tropis, bagaimana risiko bencana bawah laut dipetakan, dan bagaimana sumber daya genetik laut dikelola secara adil.
Kedua, sebagai data provider. Melalui observasi berkelanjutan dan pusat data nasional, Indonesia dapat menyediakan informasi yang dibutuhkan negara tetangga, industri pelayaran, hingga komunitas ilmiah global. Data bukan sekadar angka; ia adalah bahasa diplomasi baru di abad maritim, kata A’an.
Ketiga, sebagai collaboration leader dan guardian of regional ocean interests. A’an menjelaskan bahwa laut Indo-Pasifik adalah ruang bersama.
Kepemimpinan Indonesia dapat memastikan bahwa eksplorasi, pemanfaatan, dan perlindungan laut dalam berjalan seimbang, menghormati kepentingan negara berkembang dan masyarakat pesisir.
Panca Samudra Nusantara memberi kerangka agar peran itu tidak abstrak. Adhikara menyediakan fondasi pengetahuan regional, Caksana menghubungkan jejaring observasi, Jiwana membuka kerja sama bioteknologi, Gati memperkuat sistem peringatan dini lintas negara, dan Kala menyatukan upaya mitigasi iklim.
Riset Laut Dalam
Bagi publik, menurut A’an, kepemimpinan itu baru bermakna bila terasa dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kalender musim ikan menjadi lebih akurat, itulah buah Samudra Caksana.
Saat pelabuhan baru dibangun di lokasi yang aman dari longsor bawah laut, itulah kerja Samudra Adhikara dan Gati. Ketika sekolah vokasi pesisir mengajarkan navigasi berbasis data, itulah terjemahan Panca Samudra di ruang kelas, kata A’an.
Demikian pula dalam kesehatan. Senyawa dari mikroba laut dalam yang suatu hari menjadi obat, akan menjadi bukti nyata Samudra Jiwana. Dan ketika Indonesia ikut memimpin upaya pengurangan karbon laut global, Samudra Kala menemukan relevansinya.
Karena itu, mengenalkan Panca Samudra Nusantara ke ruang publik sama pentingnya dengan membangun laboratorium. Bahasa yang dekat akan melahirkan rasa memiliki. Tanpa dukungan masyarakat, sistem observasi terbaik pun mudah menjadi menara gading.
Sejarah menunjukkan, bangsa yang mampu menamai lautnya sendiri lebih mudah merawatnya. Panca Samudra Nusantara adalah langkah awal menata ingatan kolektif tentang kedalaman Indonesia, dari laboratorium kampus hingga warung kopi di pelabuhan.
Tentu perjalanan masih panjang. Lima misi nasional itu memerlukan kolaborasi lembaga riset, perguruan tinggi, industri, dan pemerintah daerah. Tetapi setiap perjalanan besar selalu dimulai dari cara kita berbicara tentangnya.
A’an mengatakan ketika terjadi perubahan iklim dan dinamika geopolitik samudra seperti saat ini, Indonesia memiliki kesempatan menjadi pengarah, bukan sekadar penonton.
Dengan menjadikan Panca Samudra Nusantara sebagai bahasa bersama, kita membuka jalan agar laut dalam tidak lagi sunyi, melainkan berbicara kepada bangsa yang hidup di atasnya.
