Perhitungan Terbaru Pola Hanyutan Korban Kapal Arupadhatu 1 yang Hilang di Selat Sunda

GAMBAR: BRIN

Darilaut – Pola hanyutan korban kapal cepat (Speed boat) Arupadhatu 1 di Selat Sunda pada 7 September lalu, hingga awal Oktober ini berada di Pulau Enggano, Bengkulu, dengan lintasan partikel memiliki ruang gerak yang lebih luas menuju Samudra Hindia.

Ocean Climate Research Group (OCRG), Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah melakukan perhitungan terbaru mencakup periode 28 hari dan menggunakan Euler-Lagrangian Particle Transport Model dengan data arus laut pada wilayah yang diperluas.

Hasil pemodelan menunjukkan Pulau Enggano dan perairan Bengkulu masih menjadi salah satu wilayah dengan probabilitas keberadaan partikel terbesar, sementara sebagian lintasan bergerak ke arah barat menuju Samudra Hindia.

Terdapat delapan orang – termasuk lima jurnalis — korban di kapal cepat Arupadhatu 1 yang hilang di Selat Sunda, saat meliput letusan Gunung Anak Krakatau.

Delapan orang tersebut, Warta sebagai nakhoda (55 Tahun); ⁠Surakman, anak buah kapal (60); ⁠Heriyanto, pemandu (49); ⁠M. Bagus Khoirunnas, jurnalis Antara; ⁠Ari Basuki, jurnalis Merdeka; ⁠Yudhis, jurnalis Inews; ⁠Daus, jurnalis Anadolu; dan ⁠Donal, jurnalis freelance.

Salah satu korban hilang dipastikan jenazah Surakman (ABK) yang ditemukan oleh nelayan di Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, pada 12 September 2026

BRIN memperluas pemodelan transpor partikel untuk memetakan kemungkinan pola hanyutan tujuh korban kapal Arupadhatu 1, memperpanjang simulasi hingga 5 Oktober 2026 dengan cakupan wilayah laut yang lebih luas, mulai 94° hingga 108° Bujur Timur dan 10° Lintang Selatan hingga khatulistiwa.

Perluasan wilayah pemodelan dilakukan karena simulasi sebelumnya hanya menggunakan data arus hingga sekitar 100° Bujur Timur. Hasil proyeksi menunjukkan sebagian lintasan partikel berpotensi bergerak melewati batas tersebut dalam waktu dua minggu.

Ketua tim Peneliti PRIMA BRIN, Prof. Widodo Setiyo Pranowo, mengunduh kembali data dengan cakupan lebih luas dan menjalankan pemodelan ulang.

Prof. Widodo menjelaskan bahwa pergerakan partikel ke arah barat berkaitan dengan pola arus permukaan pada September yang bergerak ke barat–barat laut di perairan barat daya Sumatra, serta pengaruh angin tenggara musim timur.

Setelah melewati Enggano, lintasan partikel memiliki ruang gerak yang lebih luas menuju Samudra Hindia. Kondisi tersebut membuat wilayah dengan probabilitas 90 persen mencapai sekitar 31 ribu kilometer persegi.

“Peta hasil simulasi pemodelan adalah alat bantu penetapan prioritas, bukan penunjuk lokasi orang per orang,” ujar Prof. Widodo seperti dikutip dari Brin.go.id.

Pemodelan ini merupakan pengembangan dari simulasi sebelumnya yang dilakukan untuk memahami pola pergerakan objek yang terbawa arus laut.

Temuan jenazah seorang kru di perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Pulau Enggano, Bengkulu Utara, pada 12 September 2026 lalu menjadi data penting untuk mengevaluasi hasil simulasi.

Sebelumnya, terdapat dua versi koordinat lokasi hilang kontak yang beredar di media dengan perbedaan sekitar 30 kilometer.

Titik koordinat tersebut digunakan sebagai dasar untuk memberikan bobot berbeda terhadap skenario dalam pemodelan.

Menurut Prof. Widodo, skenario yang tidak bisa menjelaskan mengapa jenazah sampai di Enggano pada hari kelima kami beri bobot nol. Sedangkan yang cocok diberi bobot sesuai tingkat kecocokannya. Peta yang dikeluarkan sekarang adalah peta yang sudah dikondisikan pada fakta lapangan tersebut.

Pemodelan menghitung 16.000 lintasan partikel dari delapan kombinasi titik keberangkatan, waktu keberangkatan, dan mekanisme tubuh terbawa arus. Setelah dilakukan pembobotan berdasarkan hasil evaluasi, sebaran probabilitas terbagi menjadi tiga kelompok utama.

“Sekitar 45% probabilitas berada di Pulau Enggano, terutama wilayah pantai timur hingga selatan di sekitar Kahyapu, dengan sebagian besar partikel diperkirakan terdampar pada 12–14 September,” kata Prof. Widodo.

”Pada 5% berada di pesisir Bengkulu, dari utara Kota Bengkulu hingga Kaur, sedangkan 50% masih berada di laut pada 5 Oktober. Meliputi lepas pantai Bengkulu, selatan Kepulauan Mentawai, hingga bagian Samudra Hindia.”

Setelah beberapa minggu di laut terdapat sejumlah proses yang sulit direpresentasikan secara penuh dalam model. Seperti objek yang tenggelam dan kembali mengapung, tersangkut pada rumpon atau jaring, maupun perubahan pergerakan akibat gelombang ketika mencapai pantai.

Setiap informasi lapangan baru memiliki nilai penting bagi pengembangan model. Data berupa barang milik korban atau serpihan kapal yang dilengkapi koordinat dan waktu penemuan dapat digunakan untuk memperbarui perhitungan dan mempersempit wilayah probabilitas, kata Prof. Widodo.

Setelah Basarnas menghentikan operasi pencarian gabungan 17 September 2026 lalu, BRIN merekomendasikan agar tim independen melanjutkan pencarian, meneruskan penyisiran kembali di seluruh pantai Enggano.

Kemudian menyebarkan informasi kepada nelayan dan pemerintah desa di pesisir Bengkulu, dan kapal-kapal yang melintas di koridor 4,5–5,3 derajat Lintang Selatan diminta waspada terhadap benda atau tubuh yang mengapung.

Untuk wilayah probabilitas yang sudah berada di Samudera Hindia, diperkirakan hanya bisa dijangkau oleh kapal berukuran sangat besar.

Exit mobile version