Perilaku Konsumsi Junk Food Anak SD di Kabupaten Gorontalo Pengaruh Teman Sebaya dan Iklan

Ilustrasi kemasan junk food. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menemukan perilaku konsumsi junk food pada anak sekolah dasar di Kabupaten Gorontalo karena teman sebaya, iklan, dan faktor ekonomi.

Riset juga mendapati konsumsi junk food yang berkaitan dengan pola makan tidak sehat dan risiko gangguan gizi itu lantaran kebiasaan keluarga, kemudahan akses, harga, kurangnya pendidikan, serta preferensi rasa dan kemasan.

Selain itu, kurangnya edukasi menjadi faktor dominan yang paling berpengaruh terhadap perilaku konsumsi junk food.

Efek domino teman sebaya faktor paling dominan. Di usia SD, “apa yang dimakan teman, itu yang keren.” Jika kelompok bermainnya mengonsumsi junk food, anak cenderung mengikuti agar tidak merasa terasing.

Iklan yang masif secara psikologis membentuk preferensi anak. Mereka tidak sekadar membeli makanan, mereka membeli “citra” yang ditawarkan iklan.

Kondisi finansial dan kebiasaan makan di rumah turut menyumbang peran. Jika di meja makan rumah sudah terbiasa dengan menu instan, anak akan membawa perilaku tersebut ke sekolah.

Salah satu temuan yang paling mengejutkan dalam riset ini adalah faktor kemudahan akses. Tim peneliti menemukan bahwa kemudahan mendapatkan junk food di sekitar lingkungan sekolah memberikan risiko hingga 20,412 kali lipat terhadap perilaku konsumsi makanan tidak sehat pada anak.

Saat anak keluar pagar sekolah, mereka langsung disambut oleh jajaran penjual makanan siap saji yang murah, menarik secara visual, namun miskin nutrisi.

Tanpa edukasi gizi yang kuat, anak-anak praktis “terkepung” oleh stimulus lingkungan yang tidak sehat.

Peneliti menyimpulkan bahwa faktor   teman   sebaya   merupakan   pengaruh dominan, sehingga implikasinya terhadap konteks kesehatan anak akan berpengaruh, karena anak  akan mengikuti  apa  yang  dilakukan  oleh  teman. 

Faktor  kemudahan  akses memberikan  resiko  20,412  kali  terhadap  perilaku  konsumsi Junk  Food. Hal  ini  terjadi  karena makanan  siap  saji  banyak  di  lingkungan  sekolah, sehingga  mempermudah anak-anak  untuk mendapatkannya.

Perlu  adanya  dukungan  dari  keluarga  dan  edukasi  berkelanjutan di lingkungan sekolah tentang konsumsi Junk Food.

Sekolah   bersama   Dinas   Kesehatan   perlu   mengintegrasikan   edukasi   gizi   dalam kurikulum   maupun   kegiatan   berbasis   kelompok   sebaya,   sementara   pemerintah   daerah diharapkan  memperkuat  regulasi  jajanan  sehat  dan  pengawasan  lingkungan  sekolah. 

Orang tua  juga  berperan  krusial  sebagai  sumber  pembelajaran  awal  bagi  anak  dalam  membentuk kebiasaan makan yang sehat.

Penelitian Tyas Pratiwi Manaf, Sunarto Kadir dan Vivien Novarina A. Kasim  dengan judul ”Determinan Perilaku Konsumsi Junk Food pad Siswa Sekolah Dasar: Studi Cross-Sectional di Kabupaten Gorontalo” telah diterbitkan di Jurnal Promotif Preventif, Jurnal Universitas Pancasakti Makassar.

Metode penelitian menggunakan desain Cross Sectional study. Jumlah sampel sebanyak 107 siswa. Teknik pengambilan sampel total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square.

Tujuan penelitian untuk mengenalisis determinan perilaku konsumsi junk food pada siswa sekolah dasar di Kabupaten Gorontalo.

Exit mobile version