Saat anak keluar pagar sekolah, mereka langsung disambut oleh jajaran penjual makanan siap saji yang murah, menarik secara visual, namun miskin nutrisi.
Tanpa edukasi gizi yang kuat, anak-anak praktis “terkepung” oleh stimulus lingkungan yang tidak sehat.
Peneliti menyimpulkan bahwa faktor teman sebaya merupakan pengaruh dominan, sehingga implikasinya terhadap konteks kesehatan anak akan berpengaruh, karena anak akan mengikuti apa yang dilakukan oleh teman.
Faktor kemudahan akses memberikan resiko 20,412 kali terhadap perilaku konsumsi Junk Food. Hal ini terjadi karena makanan siap saji banyak di lingkungan sekolah, sehingga mempermudah anak-anak untuk mendapatkannya.
Perlu adanya dukungan dari keluarga dan edukasi berkelanjutan di lingkungan sekolah tentang konsumsi Junk Food.
Sekolah bersama Dinas Kesehatan perlu mengintegrasikan edukasi gizi dalam kurikulum maupun kegiatan berbasis kelompok sebaya, sementara pemerintah daerah diharapkan memperkuat regulasi jajanan sehat dan pengawasan lingkungan sekolah.




