Terkait target 2026, Ajeng menyebutkan sebanyak 250 kuota mahasiswa baru diprioritaskan untuk bidang science, technology, engineering, and mathematics. Program ini menggunakan kurikulum berbasis penelitian penuh tanpa kelas reguler, yang memungkinkan mahasiswa terlibat langsung dalam berbagai proyek strategis nasional.
“Program DbR ini berbasis penelitian dan kolaborasi. Kuncinya terletak pada sinergi antara periset BRIN sebagai co-supervisor dan dosen perguruan tinggi sebagai supervisor,” kata Ajeng, Jumat (13/3), seperti dikutip dari Brin.go.id.
“Mahasiswa tidak lagi berjalan sendiri dengan promotor kampus, melainkan terintegrasi dalam kolaborasi penelitian tersebut.”
Peserta program mendapatkan dukungan pendanaan riset sehingga dapat fokus menjalankan penelitian. Pendanaan tersebut berasal dari berbagai program riset yang dikelola BRIN maupun skema pendanaan riset nasional lainnya.
Karena itu, menurut Ajeng, nanti ada jaminan dari co-promotornya atau co-supervisor dari BRIN. Jadi mereka yang bertanggung jawab untuk menyediakan pendanaan risetnya.
Bisa dari rumah program yang ada di BRIN, kemudian juga pendanaan riset, Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) ataupun yang lainnya, kata Ajeng.
Direktur Beasiswa LPDP, Dwi Larso, memberikan penguatan dari sisi filosofi pendanaan dan efisiensi birokrasi. Ia menegaskan sejak 2021, LPDP telah meninggalkan pola kerja sektoral dan memilih bersinergi erat dengan BRIN demi menghindari duplikasi program.




