Permukaan Laut Kini Naik Lebih Cepat

Pesisir dan pantai Gorontalo. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Permukaan laut kini naik lebih cepat dibandingkan masa mana pun dalam catatan sejarah. Dampaknya sudah mulai terasa dan ancamannya pun kian membesar.

Penyebab naiknya permukaan laut karena mencairnya gletser dan lapisan es. Ekspansi termal, air laut yang memanas secara fisik memakan lebih banyak ruang (volumenya memuai).

Selain itu, sekitar 91 persen kelebihan panas bumi diserap oleh lautan. Jadi, seiring memanasnya iklim akibat peningkatan emisi gas berbahaya, kenaikan permukaan laut di masa depan menjadi hal yang tak terelakkan.

Lahan terendam air, rumah-rumah kebanjiran, dan mata pencaharian hilang; kondisi ini menimbulkan kesulitan besar bagi masyarakat yang mendambakan masa depan yang lebih aman.

Melansir UN News bukan hanya lingkungan yang terdampak. Kenaikan permukaan laut juga berdampak signifikan terhadap hak asasi manusia, pembangunan ekonomi, kesehatan, budaya, masa depan banyak negara, serta martabat dasar manusia.

Dampaknya dirasakan oleh siapa saja dan hampir di mana saja, baik di negara maju maupun berkembang. Kemampuan untuk bertindak dan beradaptasi saat ini akan menjadi penentu apakah kenaikan permukaan laut akan menjadi tantangan yang dapat dikelola atau krisis lintas generasi.

Naiknya Permukaan Laut

Sederhananya, permukaan laut semakin tinggi akibat dampak perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia.

Antara tahun 2014 dan 2023, permukaan laut global naik sebesar 4,7 mm per tahun. Pada tahun 2024, angka tersebut melonjak hingga mencapai rekor 5,9 mm.

Bahkan dalam skenario paling optimistis sekalipun, permukaan laut diperkirakan akan naik hingga 0,55 meter pada tahun 2100; sedangkan dalam skenario terburuk, kenaikannya bisa melebihi satu meter.

Terdapat kemungkinan kecil—namun berdampak besar—bahwa kenaikan bisa mencapai hampir 2 meter pada akhir abad ini dalam skenario emisi tinggi.

Dampak Terhadap Manusia

Sebanyak 770 juta orang—atau kira-kira 1 dari setiap 10 manusia—tinggal di wilayah dengan ketinggian kurang dari lima meter di atas garis pasang tertinggi.

Jarak tersebut sangat dekat dan dampaknya sudah mulai terasa.

• Sumur air tawar dan lahan pertanian mulai tercemar air asin.

• Banjir merusak rumah sakit, sekolah, dan sistem sanitasi.

• Meningkatnya risiko penyakit bawaan air mengancam pasokan air minum dan turut meningkatkan tekanan psikologis.

• Sektor perikanan dan pariwisata, yang menjadi tulang punggung ekonomi banyak wilayah pesisir, kini terganggu.

• Sejumlah proyeksi memperkirakan hingga 1,2 miliar orang di seluruh dunia dapat terusir dari tempat tinggal mereka pada tahun 2050, seiring upaya mereka mencari tidak hanya lokasi yang lebih aman, tetapi juga tempat untuk membangun mata pencaharian baru.

• Bukti baru menunjukkan bahwa risiko kenaikan permukaan laut mungkin sangat diremehkan di beberapa wilayah; hal ini berarti jumlah orang yang rentan bisa jadi jauh lebih besar—mencapai puluhan juta jiwa—daripada perkiraan sebelumnya.

Melampaui dampak fisik: warisan budaya, tanah leluhur, dan cara hidup tradisional kian hilang, yang juga menimbulkan dampak psikologis nyata.

Exit mobile version