Darilaut – Hasil penelitian mencatat bahwa pertumbuhan Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda tidak berlangsung secara simetris. Gunung ini berdiri di tepi kaldera bawah laut dengan tingkat kemiringan yang berbeda pada setiap sisinya.
Sektor barat daya berkembang di atas lereng kaldera yang lebih curam, sementara bagian timur laut bertumpu pada dasar laut yang relatif lebih dangkal. Perbedaan kondisi dasar tersebut menyebabkan kedua sektor mempunyai karakter kestabilan yang berbeda.
Tubuh Anak Krakatau juga tersusun dari material dengan sifat fisik berbeda. Pada fase awal pertumbuhan, interaksi magma dengan air laut menghasilkan endapan tuf yang relatif ringan dan berpori.
Setelah sekitar 1960, ketika aktivitas lebih didominasi erupsi Strombolian – Vulcanian, lava yang lebih padat mulai menumpuk di atas endapan tuf tersebut.
Penumpukan lava yang lebih berat di atas material yang lebih ringan, ditambah posisi sektor barat daya di atas lereng kaldera yang curam, secara bertahap meningkatkan beban tubuh gunung dan berkaitan dengan ketidakstabilan lereng. Kondisi inilah yang menjadi bagian penting dalam memahami evolusi morfologi Anak Krakatau.
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Dini Nurfiani, Senin (21/9) mengatakan bahwa perjalanan Anak Krakatau menunjukkan bahwa memahami gunung api tidak cukup hanya dengan melihat satu kejadian erupsi. Perubahan sistem magma, material penyusun, bentuk tubuh gunung, gaya erupsi, hingga kondisi lingkungan saling berkaitan dan dapat berubah dari waktu ke waktu.
“Catatan erupsi Anak Krakatau memperlihatkan bahwa perilaku gunung api tidak selalu tetap, tetapi dapat berubah mengikuti perkembangan tubuh gunung, sistem magma, dan kondisi lingkungannya,” ujar Dini, seperti dikutip dari Brin.go.id.
Proses yang berlangsung sejak Anak Krakatau muncul dari laut, tumbuh hingga ratusan meter, mengalami keruntuhan besar pada 2018, kemudian kembali membangun kerucutnya hingga 2026 menjadi bagian penting untuk memahami evolusi gunung api tersebut.
Karakter Basaltik
Hasil penelitian menunjukkan magma Gunung Anak Krakatau memiliki karakter lebih basaltik, lebih panas, dan tersimpan lebih dalam dibandingkan periode Old dan Young Krakatau.
Temuan tersebut memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai perkembangan sistem magmatik Krakatau.
Pengetahuan tentang hubungan antara komposisi magma, kedalaman reservoir, temperatur, kondisi oksidasi, dan aktivitas erupsi menjadi bagian penting dalam memperkuat pemahaman risiko serta upaya mitigasi bagi masyarakat di sekitar kawasan terdampak.
Menurut Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Adrin Tohari, adanya perubahan komposisi dan kedalaman penyimpanan magma dalam evolusi sistem Krakatau.
Dalam Geohazard Webinar 2026 #05, Senin (14/9), Adrin mengatakan, pengawasan dan pemahaman ilmiah yang komprehensif mengenai Krakatau sangat penting bagi keselamatan masyarakat pesisir dan kelancaran aktivitas pelayaran di kawasan Selat Sunda.
